Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Krisis Energi Mulai Kerek Harga Tembaga Dunia

Tembaga naik 0,9 persen menjadi US$9.920,50 per ton di London Metal Exchange pada 6:50 pagi waktu setempat (22/10/2021), menyusul penurunan 3,5 persen pada hari sebelumnya.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 22 Oktober 2021  |  16:08 WIB
Gulungan kabel tembaga di pabrik Uralelectromed OJSC Copper Refinery yang dioperasikan oleh Ural Mining and Metallurgical Co. di Verkhnyaya Pyshma, Rusia, Selasa (7/3/2017). - Bloomberg/Andrey Rudakov
Gulungan kabel tembaga di pabrik Uralelectromed OJSC Copper Refinery yang dioperasikan oleh Ural Mining and Metallurgical Co. di Verkhnyaya Pyshma, Rusia, Selasa (7/3/2017). - Bloomberg/Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA - Tembaga mengalami rebound dipicu oleh krisis energi global yang terus mengguncang sektor padat energi. Krisis energi global, didorong oleh rekor harga batu bara dan gas, telah memaksa pengurangan ekspor logam dari China ke Eropa.

Freeport-McMoRan Inc., penambang tembaga publik terbesar di dunia, melaporkan produksi kuartal ketiga mengalami penurunan, terutama dari tambangnya di Amerika. Kondisi ini menambah kekhawatiran atas pasar ketat drum yang memicu tekanan bersejarah dan melihat harga melonjak kembali ke rekor tingkat.

Provinsi Jiangxi China telah memulai penjatahan listrik untuk sektor industri termasuk baja, aluminium dan tembaga, menurut riset Mysteel. Provinsi selatan China tersebut merupakan produsen utama produk tembaga dan tembaga olahan yang tengah memerangi kekurangan listrik. Kondisi kekurangan listrik tersebut diperkirakan dapat memburuk di musim dingin mendatang.

Provinsi-provinsi China telah bergegas untuk memenuhi tujuan pengurangan intensitas energi tahunan dengan menutup pabrik-pabrik industri. Lebih dari 30 persen kapasitas di industri baja, aluminium dan semen harus memenuhi standar paling ketat pemerintah untuk emisi dan efisiensi energi pada tahun 2025.

Setelah mencapai rekor tertinggi minggu lalu, LMEX Metals Index - yang melacak enam logam utama dunia - mengalami penurunan minggu ini, didorong oleh meningkatnya kekhawatiran terkait dengan default Evergrande Group.

Sementara krisis pengembang real estat yang berhutang tersebut telah menciptakan ancaman bagi ekonomi China, aset yang terpapar risiko telah menerima beberapa bantuan di tengah laporan bahwa Evergrande mungkin memenuhi tenggat waktu pembayaran utama.

Tembaga naik 0,9 persen menjadi US$9.920,50 per ton di London Metal Exchange pada 6:50 pagi waktu setempat (22/10/2021), menyusul penurunan 3,5 persen pada hari sebelumnya. Tembaga telah turun sekitar 3,7 persen minggu ini. Aluminium turun dengan kontrak merosot sebanyak 6,6 persen ke batas bawah harian 21.405 yuan di Shanghai Futures Exchange sebelum diperdagangkan pada 21.660 yuan.

Aluminium jatuh bersama dengan batu bara berjangka setelah otoritas China terus mengambil tindakan untuk mengatasi krisis energi nasional.

Di pasar besi, bijih besi naik 1,3 persen menjadi US$117,95 per ton di Singapura, setelah jatuh 4,1 persen pada hari Kamis. Bijih besi juga melonjak 6 persen di Dalian, menutup sebagian besar kerugian Kamis lalu (21/10/2021).


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tembaga Krisis Energi

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top