Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

GoTo dan Bukalapak IPO di Bursa, Prospek Reksa Dana Saham Terang Benderang

Kehadiran startup seperti GoTo, Bukalapak, dan lainnya akan semakin meramaikan pasar modal Indonesia.
Pengunjung memotret papan elektronik yang menampilkan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (22/3/2021). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Pengunjung memotret papan elektronik yang menampilkan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (22/3/2021). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Prospek kehadiran perusahaan rintisan (startup) seperti GoTo dan Bukalapak di lantai bursa Indonesia dapat berdampak positif bagi kinerja reksa dana saham pada tahun ini.

Direktur Utama PT Pinnacle Persada Investama Guntur Putra menilai, potensi dan prospek reksa dana berbasis saham di Indonesia masih cukup baik dan menarik sepanjang tahun ini.

Pihaknya menargetkan adanya potensi pemulihan pendapatan dari emiten-emiten di semester II/2021 yang akan mendorong performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Di sisi lain, katalis positif lainnya berasal dari perusahaan-perusahaan teknologi yang berencana untuk melantai di bursa di tahun ini. Guntur mengatakan, kehadiran startup seperti GoTo, Bukalapak, dan lainnya akan semakin meramaikan pasar Indonesia.

"Dari sisi program vaksinasi di Indonesia juga masih terbilang on track dan progressnya juga cukup baik," katanya saat dihubungi pada Kamis (27/5/2021)

Adapun, Guntur mengatakan pihaknya menggunakan strategi aktif dan pasif untuk produk reksa dana berbasis saham. Untuk reksa dana saham aktif, pihaknya menerapkan strategi kuantitatif yang mengutamakan manajemen risiko dalam pengelolaan.

"Jadi pada saat volatilitas pasar tinggi, kami cenderung lebih defensif," jelasnya.

Sementara itu, untuk reksa dana pasif, Pinnacle mengikuti pembobotan yang sangat efisien sesuai dengan pergerakan indeks. Guntur menjelaskan, reksa dana saham miliknya yang bersifat open ended fund universe investment terdiri atas saham-saham blue chip yang memiliki kapitalisasi pasar besar.

"Aset-aset pilihan kami akan selalu yang memiliki kapitalisasi yang tinggi seperti BBCA, BMRI, dan juga saham-saham blue chip lainnya," katanya.

Guntur melanjutkan, saat ini penurunan kinerja reksa dana saham belum berpengaruh signifikan terhadap investor. Hal ini karena mayoritas investor yang berinvestasi pada reksa dana berbasis saham umumnya lebih ke investor jangka panjang.

Selain itu, Guntur memandang volatilitas pasar pada bulan ini cenderung memiliki efek jangka pendek.

"Contohnya, di 2 hari ini market sudah rebound sedikit dari penurunan di minggu lalu," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper