Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dolar Bertahan Dekat Level Terendah 2,5 Bulan Jelang Laporan Inflasi

Dalam beberapa tahun terakhir, meningkatnya ekspektasi inflasi telah membantu dolar karena investor berasumsi Federal Reserve akan menaikkan suku bunga sebagai respons terhadap harga yang lebih tinggi. Namun, hal itu tidak lagi terjadi.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 12 Mei 2021  |  09:58 WIB
Karyawan menunjukan Dolar AS di Jakarta, Rabu (27/1/2021). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 15 poin atau 0,11 persen menjadi Rp14.050 per dolar AS. Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menunjukan Dolar AS di Jakarta, Rabu (27/1/2021). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 15 poin atau 0,11 persen menjadi Rp14.050 per dolar AS. Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Dolar AS mencapai level terendah 2,5 bulan di awal sesi New York, kemudian stabil di sekitar level tersebut pada Selasa sore (Rabu pagi WIB), menjelang data harga konsumen AS, karena investor bertaruh bahwa kenaikan inflasi dapat mengikis nilai mata uang.

Dalam beberapa tahun terakhir, meningkatnya ekspektasi inflasi telah membantu dolar karena investor berasumsi Federal Reserve akan menaikkan suku bunga sebagai respons terhadap harga yang lebih tinggi. Namun, hal itu tidak lagi terjadi.

Laporan ketenagakerjaan yang mengecewakan minggu lalu memicu aksi jual yang meluas di Greenback. Dan meskipun lonjakan harga komoditas telah menimbulkan kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi, pasar percaya The Fed akan menjaga komitmennya pada suku bunga rendah dan pembelian aset yang besar dan kuat.

"Orang-orang takut bahwa Fed bersungguh-sungguh dengan apa yang mereka katakan. Dan yang mereka katakan adalah-kami tidak akan menaikkan suku bunga, tetapi juga kami akan membiarkan inflasi berjalan," kata Andy Brenner, kepala fixed income internasional di NatAlliance Securities, dikutip dari Reuters.

Terhadap sekeranjang rival utamanya, dolar turun ke level 89,979, terendah sejak 25 Februari, dan terakhir turun 0,11 persen pada 90,138.

"Bahkan jika kita melihat cetakan di atas ekspektasi besok, kemungkinan reli dolar yang kuat sangat berkurang oleh fakta bahwa jauh lebih sedikit pelaku pasar yang mengharapkan Fed bereaksi terhadap angka itu dengan cara apa pun," kata Karl Schamotta, kepala strategi pasar di Cambridge Global Payments.

Indeks dolar turun di bawah 90 - pertama kali jatuh di bawah level itu sejak 25 Februari - tampaknya telah mendorong beberapa investor untuk menutup posisi short dollar saat mata uang utama kemudian mundur kembali, kata sebuah catatan dari Action Economics.

Mata uang yang berorientasi pada sumber daya, termasuk dolar Kanada, mengkonsolidasikan keuntungan karena reli harga komoditas meningkatkan daya tarik mereka. Loonie mencapai level tertinggi 3,5 tahun dan terakhir 0,08 persen lebih tinggi pada 1,209 dolar Kanada.

"Perekonomian berkinerja cukup kuat, sehingga mendukung ekspektasi untuk bank sentral Kanada menaikkan (suku bunga) di depan Fed," kata Karl Schamotta, kepala strategi pasar di Cambridge Global Payments.

"Data ketenagakerjaan AS pada Jumat (7/5/2021) membantu mempertahankan perbedaan suku bunga antara kedua mata uang, jadi itu mengangkatnya. Tapi dampak terbesar sejauh ini adalah kenaikan harga logam dasar. "

Euro mencapai level tertinggi 2,5 bulan selama sesi tersebut dan terakhir naik 0,21 persen pada 1,215 dolar AS.

Di pasar mata uang kripto, Ether merosot dari level rekor yang dicapai pada Senin (10/5/2021), tetapi tetap naik 2,60 persen pada hari itu menjadi 4.057 dolar AS. Mata uang digital terbesar kedua itu telah menguat sekitar 46 persen sejauh bulan ini.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kurs dolar as amerika serikat

Sumber : Antara

Editor : Ropesta Sitorus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top