Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kanada Isyaratkan Kenaikan Suku Bunga, Reli Dolar AS Terhenti

Indeks dolar AS yang melacak pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama lainnya turun setelah pengumuman dari bank sentral Kanada (BoC). Indeks dolar terakhir melemah 0,09 persen menjadi 91,1560.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 22 April 2021  |  08:14 WIB
Karyawan menunjukan Dolar AS di Jakarta, Rabu (27/1/2021). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 15 poin atau 0,11 persen menjadi Rp14.050 per dolar AS. Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menunjukan Dolar AS di Jakarta, Rabu (27/1/2021). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 15 poin atau 0,11 persen menjadi Rp14.050 per dolar AS. Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Rebound dolar Amerika Serikat terhadap mata uang utama lainnya terhenti pada akhir perdagangan Rabu (21/4/2021) setelah bank sentral Kanada mengisyaratkan akan menaikkan suku bunga acuan pada 2022 dan mengurangi cakupan program pembelian asetnya.

Indeks dolar AS yang melacak pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama lainnya turun setelah pengumuman dari bank sentral Kanada (BoC). Indeks dolar terakhir melemah 0,09 persen menjadi 91,1560.

Sebelumnya, dolar AS pulih dari level terendah tujuh minggu terhadap mata uang utama lainnya semalam, karena pelemahan lebih luas di pasar saham yang dipicu oleh kebangkitan kembali kasus Covid-19 di India dan Jepang mendorong daya tarik aset safe-haven seperti dolar AS.

Tetapi katalis untuk pergerakan antara dua dolar Amerika Utara pada Rabu (21/4/2021) adalah pengingat bahwa prospek perubahan suku bunga telah menjadi kunci bagi mata uang saat pemulihan dimulai.

Greenback melemah sepanjang April karena suku bunga AS turun dan saat para pelaku pasar bertaruh bahwa vaksinasi akan membuka pemulihan ekonomi global yang lebih kuat dan mendorong permintaan untuk mata uang yang lebih berisiko.

Dolar AS jugamelemah bersama imbal hasil obligasi pemerintah AS yang lebih lembut karena investor mempertimbangkan kembali berapa lama waktu yang dibutuhkan sebelum inflasi memaksa Federal Reserve (Fed) memperketat kebijakan moneternya.

Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) akan bertemu minggu depan dan Bank Sentral Eropa (ECB) akan memutuskan kebijakannya pada Kamis.

Analis Pasar Senior Western Union Business Solutions Joseph Manimbo mengatakan meskipun tidak ada yang diharapkan memberi sinyal perubahan kebijakan sekarang, pelaku pasar dapat menahan diri dari taruhan besar selama beberapa hari

"Saya pikir pasar hanya akan memainkannya dengan hati-hati jika Fed mengubah kebijakannya," kata Manimbo.

Saat ini, dia melihat pasar bertindak seolah-olah berada di "persimpangan jalan untuk dolar karena telah berjuang keras bulan ini."

Beberapa analis mengatakan bahwa kecenderungan baru bank sentral Kanada untuk memperketat kebijakan moneter dapat membuktikan perubahan yang terjadi pada bank sentral lainnya.

Bank of Canada secara tajam menaikkan prospek ekonominya dan mengurangi cakupan program pembelian aset berskala besar sambil mempertahankan suku bunga utamanya tetap stabil. Dikatakan bahwa pandemi akan "tidak terlalu merugikan" ekonomi daripada yang diperkirakan.

Pesan bank sentral membawa kembali beberapa sentimen risiko, yang mengangkat mata uang terkait komoditas lainnya, ahli strategi di ANZ Research mencatat. Dolar Australia dan Selandia Baru naik sekitar 0,5 persen.

Imbal hasil obligasi AS 10-tahun naik menjadi 1,58 persen menyusul keputusan ban ksentral Kanada dan kemudian turun tipis menjadi 1,57 persen, tidak jauh dari level 1,60 persen pada awal pekan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dolar as kanada bank sentral as

Sumber : Antara

Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top