Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bulan Ramadan, Saham Produsen CPO Semakin Menarik

Prospek saham sektor CPO secara keseluruhan pada bulan Ramadan masih akan positif seiring dengan level harga CPO global yang masih akan berada di posisi level tinggi.
Tandan buah segar/Bisnis.com
Tandan buah segar/Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Saham emiten produsen minyak sawit atau crude palm oil (CPO) dinilai semakin menarik untuk dicermati investor seiring dengan prospek permintaan produk turunan CPO, minyak goreng hingga mentega, pada bulan Ramadan.

Analis Henan Putihrai Sekuritas Meilki Darmawan mengatakan bahwa prospek saham sektor CPO secara keseluruhan pada bulan Ramadan masih akan positif seiring dengan level harga CPO global yang masih akan berada di posisi level tinggi.

“Prospek baik akan tercermin dari potensi kenaikan harga CPO yang juga akan ditopang dari permintaan produk berbahan baku CPO seperti minyak goreng dan margarin,” ujar Meilki kepada Bisnis, Rabu (14/4/2021).

Umumnya, Ramadan akan menjadi momentum peningkatan konsumsi CPO sebagai bahan baku minyak goreng dan mentega seiring dengan tradisi berkumpul dan makan bersama saat lebaran.

Dengan demikian, mengingat Indonesia sebagai salah satu konsumen CPO terbesar di dunia, kondisi Ramadan Indonesia diyakini akan mempengaruhi harga CPO global dalam 1 bulan ke depan.

Adapun, pada perdagangan Rabu (14/4/2021) harga CPO berjangka kontrak Juni 2021 berada di level 3.732 ringgit per ton, naik 0,16 persen. Sepanjang tahun berjalan 2021, harga telah naik 8,2 persen.

Secara terpisah, Equity Analyst Phillip Sekuritas Michael Filbery juga mengatakan bahwa bulan Ramadan akan semakin menguntungkan emiten CPO, terutama yang memiliki lini bisnis barang konsumsi.

Tidak hanya mendapatkan keuntungan dari naiknya harga CPO global, tetapi emiten itu juga akan mendapatkan keuntungan dari potensi meningkatnya penjualan barang konsumsi terutama minyak goreng sawit sehingga dapat semakin memacu kinerjanya pada tahun ini.

“Pada bulan Ramadhan dan menjelang lebaran ada potensi kenaikan permintaan minyak goreng, sehingga emiten CPO yang memiliki penjualan segmen consumer goods seperti produk minyak goreng sawit berpotensi diuntungkan dengan kenaikan permintaan tersebut,” papar Michael kepada Bisnis, Rabu (14/4/2021).

Analis Jasa Utama Capital Sekuritas Chris Apriliony mengatakan bahwa kemungkinan besar dibukanya kembali pusat belanja dan restoran juga akan menjadi katalis positif bagi kinerja emiten CPO tahun ini.

“Dengan harga CPO yang stabil di area 3.600-3.800 ringgit per ton, maka seharusnya emiten-emiten CPO dapat meningkatkan laba bersihnya kembali pada tahun ini,” papar Chris kepada Bisnis.

Sementara itu, analis RHB Sekuritas Andre Benas mengatakan bahwa permintaan minyak goreng tampaknya tidak akan naik terlalu signifikan karena pertumbuhan permintaannya sudah stabil dari bulan-bulan sebelumnya.

Dia menjelaskan bahwa harga CPO saat ini akan lebih didorong oleh kemungkinan permintaan oleh India dan China yang saat ini tingkat inventory CPO kedua negara itu masih rendah.

“Namun yang dapat dipastikan, kinerja emiten pasti baik karena harga CPO masih stabil di level tinggi, sehingga kinerja tahun ini lebih tinggi daripada 2020,” papar Andre kepada Bisnis.

Di sisi lain, indeks yang berisikan saham emiten perkebunan di Bursa Efek Indonesia, indeks Jakagri berada di level 1.471,3, naik 1,85 persen pada perdagangan Rabu (14/4/2021).

Indeks masih bergerak menguat hingga 24,31 persen dalam enam bulan terakhir, kendati sepanjang tahun berjalan 2021 terkoreksi 1,78 persen.

Secara year to date, penguatan indeks dipimpin oleh saham emiten debutan PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) yang telah menguat 110 persen, diikuti saham PT Pinago Utama Tbk. (PNGO) yang naik 37,31 persen, dan saham PT Salim Ivomas Pratama Tbk. (SIMP) yang menguat 9,31 persen.

Di antara seluruh saham sektor CPO, Meilki merekomendasikan beli untuk saham PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) karena memiliki keunggulan dari struktur balance sheet dari kompetitior dan merupakan emiten dengan area tanam terluas. Target harga AALI di Rp14.000 dan potensi mencetak laba bersih sebesar Rp1,08 triliun pada 2021.

Andre merekomendasikan saham PT PP London Sumatra Indonesia Tbk. (LSIP) dengan target harga Rp1.660, sedangkan Chris merekomendasikan LSIP dengan target harga Rp1.600 dan SIMP di level Rp640.

Sementara itu, Michael juga merekomendasikan LSIP dan SIMP dengan masing-masing target harga di Rp1.400 dan Rp550.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper