Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pasar Tunggu The Fed, Rupiah Ditutup Melemah

Rupiah mengakhiri pergerakan pada level Rp14.427 per dolar AS setelah melemah 17,50 poin atau 0,12 persen dibandingkan penutupan kemarin.
Karyawan menunjukan dolar AS di Jakarta, Rabu (3/3/2021). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menunjukan dolar AS di Jakarta, Rabu (3/3/2021). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Rabu (17/3/2021) seiring penguatan dolar jelang

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah mengakhiri pergerakan pada level Rp14.427 per dolar AS setelah melemah 17,50 poin atau 0,12 persen dibandingkan penutupan kemarin.

Nilai tukar mata uang garuda melemah sejak awal perdagangan. Bahkan sempat menyentuh level Rp14.457 pada jam-jam pertama perdagangan. Namun akhirnya berhasil memperkecil pelemahannya.

Mayoritas mata uang Asia mengalami depresiasi pada perdagangan hari ini seperti ringgit Malaysia -0,18 persen, peso Filipina 0,17 persen, baht Thailand -0,11 persen, serta won Korea Selatan dan rupee India yang kompak turun -0,03 persen,.

Di sisi lain, indeks dolar AS di pasar spot terpantau menguat 0,57 poin atau 0,06 persen ke level 91,92.

Direktur TFRX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan pasar tengah menanti bagaimana hasil keputusan dalam Federal Open Market Committee (FMOC) atau dewan rapat kebijakan bank sentral AS yang digelar malam nanti atau Rabu siang waktu AS.

Dia menyebut mata uang greenback menguat seiring dengan ekspektasi bahwa The Fed akan merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi AS dan memutuskan untuk menaikkan suku bunga lebih cepat.

“Pertanyaan besar bagi pelaku pasar adalah apakah Fed akan memberi sinyal adanya kecenderungan untuk mulai menaikkan suku bunga pada tahun 2023, lebih awal dari yang dikatakan sebelumnya, ini langkah yang dapat memicu reli lebih lanjut dalam dolar,” tulis Ibrahim dalam publikasi hariannya, dikutip Bisnis, Rabu (17/3/2021)

Di sisi lain, dari dalam negeri Ibrahim menyebut sentimen datang dari pemerintah yang secara terang-terangan memiliki kekhawatiran terhadap ancaman ekonomi di masa yang akan datang, bukan hanya buruk bagi Indonesia, tapi juga dunia.

“Dikarenakan kebijakan stimulus yang jor-joran sehingga mengakibatkan harga-harga komoditas melonjak lebih tinggi,” jelas Ibrahim.

Kekhawatiran ini mengacu pada Laporan World Economic Forum (WEF) bertajuk The Global Risk Report 2021 yang memaparkan bagaimana banyak negara dihadapkan konsekuensi atas kebijakan yang diambil ketika menghadapi pandemi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper