Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

PTBA, TINS, dan ANTM Berpeluang Pulihkan Kinerja pada 2021

Proyeksi ini didukung dengan asumsi pemulihan ekonomi berjalan dengan lancar setelah mengalami tekanan pada tahun lalu akibat pandemi Covid-19.
Foto udara pabrik pengolahan nikel milik PT Aneka Tambang Tbk. di Kecamatan Pomalaa, Kolaka, Sulawesi Tenggara, Senin (24/8/2020). PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) mencatat pertumbuhan positif kinerja produksi unaudited komoditas feronikel pada periode triwulan ke-2 tahun 2020 sebesar 6.447 ton nikel dalam feronikel (TNi) atau naik sebesar dua persen dibandingkan kuartal sebelumnya. ANTARA FOTO/Jojon
Foto udara pabrik pengolahan nikel milik PT Aneka Tambang Tbk. di Kecamatan Pomalaa, Kolaka, Sulawesi Tenggara, Senin (24/8/2020). PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) mencatat pertumbuhan positif kinerja produksi unaudited komoditas feronikel pada periode triwulan ke-2 tahun 2020 sebesar 6.447 ton nikel dalam feronikel (TNi) atau naik sebesar dua persen dibandingkan kuartal sebelumnya. ANTARA FOTO/Jojon

Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja tiga emiten BUMN tambang diyakini dapat berangsur pulih pada tahun ini didukung tren kenaikan harga komoditas dan prospek pemulihan ekonomi.

Equity Research Analyst NH Korindo Sekuritas Maryoki Pajri Alhusnah mengatakan bahwa secara umum kinerja tiga emiten BUMN tambang, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Timah Tbk. (TINS), dan PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) akan perlahan membaik.

Hal itu didukung dengan asumsi pemulihan ekonomi berjalan dengan lancar setelah mengalami tekanan pada tahun lalu akibat pandemi Covid-19.

“Selain itu, harga-harga komoditas yang jauh lebih tinggi daripada 2020 juga akan menjadi pendukung dari kinerja emiten-emiten tersebut,” ujar Maryoki kepada Bisnis, Senin (15/3/2021).

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, trio emiten pertambangan pelat merah, kompak mencetak penurunan pendapatan pada 2020.

Di antara ketiga emiten itu, hanya ANTM yang berhasil mencetak pertumbuhan bottom line impresif, yaitu melejit 492,91 persen menjadi Rp1,14 triliun.

Sementara itu, PTBA mencetak penurunan laba 41,17 persen menjadi Rp2,38 triliun dan TINS masih membukukan rugi bersih sebesar Rp340,59 miliar.

Adapun, Maryoki menjelaskan bahwa penurunan kinerja ketiga emiten tersebut disebabkan pandemi Covid-19 sehingga membuat proses produksi menjadi terhambat.

Kemudian, average selling price (ASP) beberapa komoditas juga menurun sehingga menekan margin.

Namun, dia menjelaskan untuk ANTM peningkatan bottom linenya berhasil tumbuh didukung beban perusahaan yang berkurang, seperti COGS dan selling expense yang turun cukup signifikan jika dibandingkan dengan 2019.

Di antara ketiga saham emiten BUMN tambang itu, Maryoki merekomendasikan jual untuk ANTM dengan target harga Rp1.480, mengingat harga saham ANTM dinilai sudah terlalu tinggi.

Sementara itu, Maryoki merekomendasikan overweight untuk PTBA dengan target harga Rp3.030.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper