Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kode Broker Ditutup, Begini Untung dan Ruginya

Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy menilai aturan baru tersebut memungkinkan memengaruhi transaksi berjalan harian investor secara jangka pendek.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 25 Februari 2021  |  16:45 WIB
Pekerja melintasi papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (1/2/2021). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pekerja melintasi papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (1/2/2021). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Kebijakan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait penutupan kode broker dan tipe investor, yang akan mulai berlaku pada 26 Juli 2021 memungkinkan berdampak pada penurunan jumlah investor ritel dan jumlah transaksi harian.

Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy menilai aturan baru tersebut memungkinkan memengaruhi transaksi berjalan harian investor secara jangka pendek. Apalagi, saat ini banyak investor atau trader tidak mengutamakan fundamental secara mendalam atau hanya mengaju pada bandarmology.

"Karena cukup banyak yang menggunakan startegi aksi jual beli [saham] berdasarkan informasi itu [broker], kalau jangka pendek bisa saja signifikan hingga belasan persen penurunannya baik jumlah investor atau transaksi mereka," jelas Budi saat dihubungi Bisnis, Kamis (25/2/2021).

Sedangkan secara jangka panjang, investor perlu melakukan penyesuaian dengan aturan tersebut. Apabila, investor tidak dapat menyesuaikan kemungkinan akan berdampak pada penurunan yang lebih besar.

Budi mengatakan memang ada keuntungan dan kerugian akan adanya aturan baru tersebut. Salah satunya kerugian yang ditanggung investor adalah penurunan kualitas informasi atau transparansi. 

"Padahal terutama buat para trader mengatahu siapa yang membeli itu relevan. Itu strategi buat mereka, apakah ini bandarnya atau yang punya saham itu banyak  masih ngumpulin atau sudah menjual saham tertentu. Hal itu bisa jadi acuan trader, itu utamanya," jelasnya.

Apalagi, menurut Budi saat ini sekitar 80 persen investor ritel adalah trader. Sehingga, apabila informasi tersebut ditutup atau dihapus maka hal tersebut ekuivalen dengan menutup mata dari investor.

Kendati begitu, dia mengakui aturan tersebut juga memiliki sisi positif. Budi menggaris bawahi beberapa dampak positif dari kebijakan BEI, salah satunya adalah mengurangi praktik herding behavior. Selain itu, praktik tersebut sudah lazim terjadi di banyak negara. 

"Dari puluhan bursa di dunia, mungkin cuma 6-7 bursa yang kasih trading kode broker. Dugaan saya dengan banyaknya investor ritel, IT broker dan IDX jadi berat. Mungkin ini berusaha untuk menghemat memori,"jelasnya.

Selain itu, penutupan kode broker juga mendorong investor untuk mendasarkan aksi jual atau beli saham berdasarkan riset yang mendalam.

"Jadi menurunkan atau mengurang noise bandarmology. Jadi bandarmology tidak terlalu marak lagi karena sedikit menekan investor untuk mengikuti bandar," katanya.

Untuk mempertahankan investor ritel, maka BEI atau otoritas bursa lebih getol menyeimbangkan edukasi terkait untung dan rugi dalam investasi saham. Menurutnya, saat ini investor baru atau milenial lebih banyak terpapar informasi dari para pelaku pom-pom saham atau influencer.

"Jadi penekanannya bukan hanya sekadar untungnya saja. Tapi menyeimbangkan dengan risikonya, bahwa investasi saham tidak mudah dan instan, perlu proses dan jangka panjang," jelasnya.

Financial Expert dari Universitas Prasetya Mulya Lukas Setia Atmaja menambahkan edukasi tentang investasi dan trading yang baik sangat diperlukan. Selain itu, juga dibutuhkan pengawasan yang lebih ketat untuk saham-saham yang sering bergerak liar. karena herding behavior.

"Saham-saham ini berpotensi merugikan investor yang membeli diharga pucuk. Kebijakan asymetry atuo reject perlu ditinjau ulang keuntungan dan kerugiannya, terutama dampaknya terhadap motivasi investor atau trede untuk berspekulasi di saham-saham yang harganya sudah naik tingi," katanya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa efek indonesia investor ritel
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top