Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Tembaga Terus Melaju, Ini Ramalan Morgan Stanley

Tanda terjadinya kelangkaan tembaga dinilai sudah terlihat pada bursa London Metal Exchange (LME), dimana pengiriman untuk bulan terdekat atau pasar Spot lebih mahal dibandingkan bulan-bulan mendatang, atau membentuk pola backwardation. 
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 22 Februari 2021  |  19:32 WIB
Tembaga. - Bloomberg
Tembaga. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Keterbatasan pasokan tembaga diprediksi akan terus berlangsung sepanjang 2021. Kondisi tersebut berpotensi mengerek harga tembaga ke level US$10.000 per ton tahun ini.

Dilansir dari Bloomberg pada Senin (22/2/2021), dalam laporan terbarunya, Morgan Stanley semakin memperkuat posisi bullish-nya pada komoditas tembaga.

Laporan tersebut menjelaskan, kembali normalnya kegiatan ekonomi di China setelah perayaan imlek akan memicu kelanjutan reli harga.

“Pasar tembaga akan menghadapi defisit stok terbesar dalam 1 dekade terakhir pada tahun 2021. Potensi terjadinya kelangkaan tembaga sangat besar terjadi,” demikian kutipan laporan tersebut.

Tanda terjadinya kelangkaan tembaga dinilai sudah terlihat pada bursa London Metal Exchange (LME), dimana pengiriman untuk bulan terdekat atau pasar Spot lebih mahal dibandingkan bulan-bulan mendatang, atau membentuk pola backwardation

Kondisi tersebut juga menggambarkan struktur pasar tembaga global yang bullish.

Laporan tersebut melanjutkan, pola backwardation juga terjadi pada lonjakan permintaan dari China pada tahun lalu. Hal tersebut mengindikasikan laju permintaan pada pasar Spot tembaga melebihi pasokannya seiring dengan jumlah cadangan yang terus menurun.

Kekhawatiran terhadap minimnya pasokan tembaga global juga ditambah dengan kemungkinan pemangkasan produksi yang akan dilakukan pada sejumlah smelter di China. 

Laporan tersebut menyatakan, jumlah cadangan tembaga pada Shanghai Futures Exchange terpantau pada posisi terendahnya dalam lebih dari 1 dekade terakhir.

Sementara itu, Analis UBS Group AG, Dominic Schnider dan Wayne Gordon dalam laporannya memperkirakan harga tembaga akan rebound dan mencapai level US$9.500 per metrik ton pada pertengahan tahun 2021. 

Salah satu pendukung kenaikan harga adalah defisit persediaan tembaga yang akan terjadi pada tahun ini.

UBS memperkirakan, defisit persediaan tembaga pada 2021 adalah sebesar 469 ribu ton, atau 2 persen dari total permintaan tahunan. Berkurangnya persediaan tembaga akan berimbas pada lonjakan harga.

“Penurunan persediaan juga ditambah dengan naiknya permintaan tembaga global seiring dengan usaha negara-negara mempercepat upaya pengurangan emisi karbon, terutama di sektor manufaktur,” demikian kutipan laporan tersebut.

Senada, laporan dari Goldman Sachs menyatakan masalah kelangkaan tembaga di pasar global akan menjadi bahan bakar utama reli harga komoditas ini ke depannya. 

Laporan tersebut menyebutkan, sikap investor yang mengumpulkan tembaga menjadi salah satu penyebab berkurangnya persediaan tembaga dunia.

Goldman Sachs melanjutkan, sentimen ini dapat mengimbangi prospek penguatan dolar AS pada 2021. Seiring dengan hal itu, Goldman Sachs merevisi target harga tembaga pada periode 3, 6, dan 12 bulan masing-masing menjadi US$8.500, US$9.000, dan US$10,000 per metrik ton.

Proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan angka yang dikeluarkan sebelumnya yang memperkirakan harga tembaga dalam periode 3 bulan di level US$8.200, 6 bulan sebesar US$8.700 dan 12 bulan di kisaran US$9.500 per metrik ton.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tembaga london metal exchange
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top