Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perekonomian Pulih, Mirae Optimistis Bisnis Underwriter Lebih Baik pada 2021

Prospek bisnis underwriter untuk tahun ini akan membaik. Hal tersebut terjadi seiring dengan prospek perbaikan perekonomian Indonesia dan dunia dari pandemi virus corona.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 11 Februari 2021  |  16:05 WIB
Pekerja melintasi papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (1/2/2021). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pekerja melintasi papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (1/2/2021). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Bisnis penjaminan efek atau underwriter diyakini akan lebih optimal pada tahun 2021.

Head of Wealth Management Divison Mirae Asset Sekuritas Indonesia Fajrin Hermansyah menuturkan, bisnis underwriter sepanjang tahun 2020 kurang optimal. Pasalnya, pandemi virus corona membuat perusahaan cenderung enggan melakukan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO).

"Ada rencana kami yang sudah disiapkan pada 2019 tidak dapat dieksekusi pada 2020 lalu," katanya dalam konferensi pers secara daring pada Kamis (11/2/2021).

Fajrin melanjutkan, prospek bisnis underwriter untuk tahun ini akan membaik. Hal tersebut terjadi seiring dengan prospek perbaikan perekonomian Indonesia dan dunia dari pandemi virus corona.

Menurutnya, kesempatan perusahaan untuk menggalang dana lewat aksi IPO pada tahun ini akan bagus. Hal tersebut akan memicu perbaikan bisnis underwriter dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia.

Ia menambahkan, rencana IPO yang tidak dapat dilakukan pada 2020 direncanakan dieksekusi pada tahun ini. Fajrin mengakui pihaknya sudah mengantongi beberapa nama yang akan dibawa melantai ke bursa.

"Kami belum dapat menyebutkan jumlahnya. Yang pasti, rencana yang tertunda pada 2020 lalu dapat kami laksanakan pada tahun ini," tuturnya.

Pada pekan lalu, Bursa Efek Indonesia menyatakan telah mengantongi 30 calon emiten dalam daftar tunggu (pipeline) perusahaan yang akan melakukan penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO).

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna Setya mengatakan sejak awal tahun terdapat 3 perusahaan tercatat baru yang menggalang dana senilai total Rp1,2 triliun dari lantai bursa, yaitu PT FAP Agri Tbk., PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk., dan PT DCI Indonesia Tbk.

“Hingga saat ini, terdapat 30 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI dengan detail per rincian sektor berdasarkan IDX Industrial Classification (IDX-IC),” kata Nyoman, pekan lalu.

Adapun, calon emiten terpantau banyak berasal dari sektor konsumer siklikal sebanyak 7 perusahaan. Selanjutnya dari sektor konsumer nonsiklikal dan teknologi masing-masing sebanyak 3 perusahaan.

Dari sektor bahan dasar, industrial, serta properti dan real estate masing-masing 2 perusahaan.  Lalu, masing-masing satu perusahaan berasal dari sektor energi, keuangan, infrastruktur, serta transportasi dan logistik.

Sedangkan sisanya sebanyak 7 perusahaan masih dalam proses pengelompokan sektoral berdasarkan aturan IDX Industrial Classification.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

UNDERWRITER mirae
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top