Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Data Ekonomi China Positif, Bursa Asia Tetap Bergerak Variatif

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang ditutup melemah masing-masing 0,6 persen dan 0,97 persen. Sementara itu, indeks Kospi ditutup anjlok 2,33 persen dan indeks S&P/ASX 200 Australia terkoreksi 0,78 persen.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 18 Januari 2021  |  15:50 WIB
Ilustrasi. Bursa saham China. -  Qilai Shen/ Bloomberg
Ilustrasi. Bursa saham China. - Qilai Shen/ Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia asia berakhir variatif pada perdagangan awal pekan hari ini, Senin (18/1/2021), karena investor bersikap hati-hati meskipun ada sentimen positif dari data ekonomi China.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang ditutup melemah masing-masing 0,6 persen dan 0,97 persen. Sementara itu, indeks Kospi ditutup anjlok 2,33 persen dan indeks S&P/ASX 200 Australia terkoreksi 0,78 persen.

Bursa Korsel terpukul menyusul tekanan sentimen terhadap pembuat produsen chip di tengah berita pemerintahan Trump akan membatasi lisensi untuk beberapa pemasok Huawei Technologies Co.

Di China, indeks Shanghai Composite ditutup menguat 0,84 persen, sedangkan indeks CSI 300 menguat 1,11 persen. Sementara itu, indeks Hang Seng Hong Kong ditutup megnuat 1,01 persen.

Ekonomi China tumbuh 2,3 persen sepanjang tahun lalu, pulih ke tingkat pertumbuhan prapandemi pada kuartal keempat 2020. Angka pertumbuhan itu menjadikan China satu-satunya ekonomi yang terhindar dari kontraksi akibat pandemi.

Biro Statistik Nasional mengatakan produk domestik bruto naik 6,5 persen pada kuartal terakhir dari tahun sebelumnya, didorong oleh output industri yang lebih kuat dari perkiraan. Ekonom yang disurvei Bloomberg memperkirakan pertumbuhan 6,2 persen untuk kuartal tersebut dan 2,1 persen untuk setahun penuh.

Pasar saham global tergelincir pekan lalu setelah optimisme tentang paket bantuan AS senilai US$1,9 mulai goyah. Di sisi lain, investor juga menantikan data pertumbuhan ekonomi China kuartal IV/2020 yang diperkirakan berekspansi.

“Pasar perlu istirahat atau bahkan mundur untuk menjustifikasi ekspektasi reflasi,” kata direktur pelaksana strategi makro global Medley Global Advisors Ben Emons, seperti dikutip Bloomberg.

Sementara itu, Janet Yellen diperkirakan akan menegaskan komitmen AS terhadap nilai tukar yang ditentukan pasar dan memberikan jaminan bahwa AS tidak melemahkan nilai mata uangnya untuk keuntungan perdagangan yang kompetitif.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bursa Asia ekonomi china
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top