Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Sempat di Zona Hijau, Saham Telkom (TLKM) Tersengat Vaksinasi Covid-19

Saham TLKM sempat menyentuh level Rp3.550, namun terkoreksi 0,85 persen ke level Rp3.480 per saham pada akhir sesi I.
Komplek perkantoran Telkom Hub milik PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. di Jalan Gatot Subroto, Jakarta./telkom
Komplek perkantoran Telkom Hub milik PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. di Jalan Gatot Subroto, Jakarta./telkom

Bisnis.com, JAKARTA – Hingga penutupan perdagangan sesi pertama, Rabu (13/1/2021), harga saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) turun 0,85 persen menjadi Rp3.480 setelah di awal pembukaan sempat berada di zona hijau dan menyentuh level Rp3.550.

Volume perdagangan sahamnya mencapai 89.57 juta lembar dengan nilai total Rp314,37 miliar. Dengan perhitungan Price to Equity Ratio (PER) 15,5.

Emiten ini terlibat dalam pembentukan sistem satu data vaksinasi guna memudahkan agar setiap warga negara Indonesia (WNI) yang mendapatkan vaksin valid. Sistem pun sudah digunakan ketika vaksinasi tahap I yang dimulai hari ini, Rabu (13/1/2021).

Direktur Digital Business Telkom Fajrin Rasyid menuturkan terkait dengan pendataan vaksinasi, Sistem infrastruktur Satu Data Vaksinasi Covid-19 akan mengintegrasikan data dari berbagai sumber baik Kementerian/Lembaga dan operator telekomunikasi untuk validitas calon penerima vaksin.

"Sistem ini mendukung dashboard penyaringan untuk menentukan daerah dan penduduk prioritas hingga jadwal sesuai ketersediaan vaksin. Sejauh ini proses integrasi infrastruktur data tersebut telah selesai dan tengah digunakan untuk pendataan penerima vaksin tahap pertama," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (13/1/2021).

Sebelumnya, pemerintah pun melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) telah memastikan kesiapan sistem infrastruktur Satu Data Vaksinasi Covid-19.

TLKM, terangnya, berkomitmen penuh dalam mendukung upaya pemerintah dalam pelaksanaan program vaksinasi Covid-19 dalam hal penyediaan Sistem Infrastruktur Informasi dan Satu Data Vaksinasi Covid-19 sehingga distribusi vaksin dapat optimal, tepat waktu dan tepat sasaran.

Mantan CEO Bukalapak tersebut menjelaskan TLKM menyediakan platform big data, cloud, dan data center serta kehandalan jaringan konektivitas yang menjadi kompetensi perseroan. Dengan demikian, dapat menjamin akses informasi dan data distribusi vaksin sesuai dengan kebutuhan pemerintah.

"Untuk mempermudah pelaksanaan vaksinasi, TLKM juga mendukung penyediaan akses internet yang dibutuhkan oleh fasilitas kesehatan di lokasi vaksinasi yang terjangkau jaringan IndiHome maupun Telkomsel," ujarnya.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, emiten bersandi TLKM tersebut mencatatkan pendapatan sebesar Rp99,94 triliun hingga akhir September 2020 atau kuartal III/2020. Realisasi tersebut turun 2,62 persen dibandingkan pendapatan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp102,63 triliun.

Secara rinci, kontribusi terbesar masih datang dari segmen data, internet, dan jasa teknologi informatika. Pendapatan konsolidasi sebelum penyesuaian dari segmen ini tercatat sebesar Rp56,45 triliun, melambung 36,88 persen secara year on year dari sebelumnya Rp41,24 triliun.

Disusul pendapatan dari Indihome sebesar Rp16,11 triliun. Segmen bisnis layanan internet broadband dan televisi berlangganan ini naik 16,48 persen dari sebelumnya hanya menyumbang Rp13,76 triliun.

Kemudian pendapatan interkoneksi juga mengalami kenaikan yakni sebesar 26,49 persen, dari yang semula Rp4,76 triliun menjadi Rp6,03 triliun dan pendapatan lain-lain naik 16,48 persen dari Rp3,02 triliun menjadi Rp3,52 triliun.

Sebaliknya, ada dua segmen menjadi pemberat kinerja TLKM yakni pendapatan telepon anjlok 28,76 persen, dari semula Rp21,25 triliun menjadi Rp15,13 triliun dan pendapatan jaringan turun 20 persen, menjadi Rp1,07 triliun dari sebelumnya Rp1,34 triliun.

Walhasil, laba usaha perseroan juga turut menyusut 1,32 persen. Per 30 September 2020, laba usaha TLKM sebesar Rp33,01 triliun dari sebelumnya Rp33,45 triliun.

Namun, laba yang dapat diatribusikan pada entitas pemilik perseroan masih tumbuh tipis menjadi Rp16,67 triliun dari sebelumnya Rp16,45 triliun atau naik 1,34 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper