Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Investor Hati-Hati, Wall Street Melemah pada Awal Perdagangan

Berdasarkan data Bloomberg, indeks S&P 500 melemah 0,75 persen ke level 3.795,91, sedangkan indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,55 persen ke 6.382,94 dan Nasdaq Composite melemah 1,23 persen ke posisi 13.040,11 pada awal perdagangan.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 11 Januari 2021  |  21:53 WIB
Lambang Nasdaq Market Site di Times Square, New York -  Bloomberg / Demetrius Freeman
Lambang Nasdaq Market Site di Times Square, New York - Bloomberg / Demetrius Freeman

Bisnis.com, JAKARTA – Setelah aksi beli gila-gilaan melanda pasar saham global dan bursa Amerika Serikat pekan lalu, investor mulai perdagangan Senin (11/1/2021) dengan hati-hati.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks S&P 500 melemah 0,75 persen ke level 3.795,91, sedangkan indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,55 persen ke 6.382,94 dan Nasdaq Composite melemah 1,23 persen ke posisi 13.040,11 pada awal perdagangan.

Indeks S&P 500 dibuka lebih rendah setelah reli empat hari, sementara bursa saham Eropa mundur dari level tertinggi 10 bulan. Dolar AS menguat terhadap semua mata uang utama, dengan permintaan yang didukung oleh imbal hasil Treasury yang tinggi.

Yang membebani pikiran para investor adalah kekhawatiran bahwa ekuitas menguat terlalu cepat dan valuasi meregang pada saat sebagian besar dunia bergulat dengan pandemi terburuk. Di Jerman, menteri kesehatan meminta warganya untuk secara drastis membatasi kontak sosial setelah jumlah kematian akibat virus naik di atas 40.000.

"Pergerakan indeks memiliki kenaikan jangka panjang seperti kami bertanya-tanya apakah pasar saham mendaki 'tembok kekhawatiran' terlalu cepat untuk awal tahun ini dengan begitu banyak rintangan yang mungkin ada di depan," ungkap kepala investasi Oppenheimer & Co. John Stoltzfus, seperti dikutip Bloomberg.

Imbal hasil Treasury AS mencapai 1 persen minggu lalu di tengah taruhan bahwa anggota parlemen Demokrat akan memberlakukan paket pengeluaran besar untuk mendorong pemulihan ekonomi.

Langkah tersebut mengatur ulang ekspektasi untuk berbagai kelas aset dan memicu perdebatan tentang apakah imbal hasil yang lebih tinggi dapat membahayakan lingkungan kondisi keuangan yang mudah saat ini.

Saham Twitter Inc. jatuh setelah platform media sosial tersebut memblokir akun Presiden Donald Trump secara permanen setelah massa menyerbu gedung Capitol pekan lalu.

Analis Mirabaud Securities Neil Campling mengatakan pelarangan tersebut menunjukkan perusahaan membuat keputusan editorial dan membuka pintu untuk lebih banyak regulasi media sosial di bawah pemerintahan berikutnya. Saham Facebook Inc., yang juga menangguhkan akun Trump juga menurun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as wall street
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top