Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Saham Batu Bara di Atas Angin, Emiten Mana yang Paling Favorit?

Sentimen kenaikan harga batu bara disebut menjadi energi utama penggerak saham pertambangan batu bara. Saham ADRO, PTBA, dan ITMG banyak dijagokan kalangan sekuritas.
Kegiatan bongkar muat batu bara di area pertambangan PT Mitrabara Adiperdana Tbk./mitrabara
Kegiatan bongkar muat batu bara di area pertambangan PT Mitrabara Adiperdana Tbk./mitrabara

Bisnis.com, JAKARTA - Saham-saham pertambangan batu bara kembali unjuk gigi pada perdagangan awal tahun ini. Pamor saham sektor itu belum mereda seiring dengan tren kenaikan harga komoditas.

Berdasarkan data Bloomberg, sejumlah saham tambang batu bara berhasil bertahan di zona hijau pada perdagangan Selasa (5/1/2021). Penguatan dipimpin oleh saham PT Delta Dunia Makmur Tbk. (DOID) yang naik 1,1 persen dan disusul oleh saham PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) naik 0,95 persen.

Adapun, penguatan saham batu bara itu masih melanjutkan tren pergerakan sepanjang 2020 yang terpantau  cukup impresif kendati dibayangi sentimen pandemi Covid-19.

Pada 2020, saham tambang batu bara PT Alfa Energi Investama Tbk. (FIRE) berhasil terapresiasi hingga 304,91  persen. Tidak kalah, saham PT Harum Energy Tbk. (HRUM) juga naik 125,76 persen, saham PT Indika Energy Tbk. (INDY) naik 63,17 persen, dan saham PT Mitrabara Adiperdana Tbk. (MBAP) menguat 61,49 persen.

Bahkan, saham Grup Bakrie, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), juga naik hingga 59,62 persen dan ditutup meninggalkan  level gocap ke posisi Rp83 per saham.

Di sisi lain, secara keseluruhan kinerja indeks Jakmine tahun lalu juga menarik perhatian. Indeks saham pertambangan atau indeks Jakmine berhasil menjadi indeks sektoral dengan kinerja terbaik pada 2020 yaitu mengemas return positif 23,69 persen.

Kinerja indeks itu berhasil mengungguli kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) yang terkoreksi 5,09 persen dan indeks LQ45 yang melemah 7,85 persen.

Belum genap seminggu perdagangan tahun ini, indeks jakmine ternyata masih memiliki kekuatan untuk tetap naik. Sepanjang tahun berjalan 2021, indeks Jakmine telah menguat 5,07 persen. Pada perdagangan Selasa (5/1/2021) indeks Jakmine parkir di posisi 2.012,762, menguat 1,08 persen atau 21,51 poin.

Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Wijoyo mengatakan bahwa sentimen kenaikan harga batu bara menjadi energi utama penggerak saham pertambangan batu bara.

Untuk diketahui, harga batu bara acuan (HBA) Januari 2021 tercatat senilai US$75,84 per ton atau melonjak 27,14 persen dari posisi Desember 2020 US$59,65 per ton. Harga pada awal tahun tersebut menjadi yang tertinggi sejak Juli 2019.

Sementara itu di pasar global, harga batu bara Newcastle untuk kontrak Januari 2021 pada perdagangan Selasa (5/1/2021) hingga pukul 15.40 WIB naik 0,37 persen ke posisi US$81,5 per ton.

Harga batu bara itu berhasil mempertahankan tren kenaikannya yang terjadi sejak awal kuartal III/2020 setelah jatuh cukup dalam akibat pandemi Covid-19 yang menekan permintaan komoditas. Dia mengatakan, saham batu bara yang bisa dipertimbangkan oleh investor saat ini adalah PTBA, ADRO, INDY, dan ITMG.

“Banyak investor mungkin sudah memproyeksikan nilai sales yang positif emiten pertambangan batu bara dengan harga komoditasnya yang menghangat pada laporan tahunan 2020 nanti dan juga laporan pada kuartal I/2021,” ujar Frankie kepada Bisnis, Selasa (5/1/2020).

Secara terpisah, Analis RHB Sekuritas Fauzan Luthfi mengatakan bahwa saham batu bara pada tahun ini masih prospektif seiring dengan pemulihan harga batu bara yang diproyeksikan masih berlanjut dalam jangka pendek.

“Penguatan harga batu bara itu diekspektasikan bisa direfleksi ke pencapaian earnings yang positif untuk emiten batu bara di kuartal IV/2020 dan kuartal I/2021,” papar Fauzan kepada Bisnis, Selasa (5/1/2020).

Dia merekomendasikan saham ADRO, PTBA, dan khususnya ITMG untuk menjadi perhatian investor karena mempunyai porsi penjualan high-calorific value ke Japan dan China yang masih besar.

Adapun, permintaan kedua negara itu ditambah Korea Selatan dinilai telah mengalami perbaikan dibandingkan dengan importir batu bara lainnya. Dengan demikian, profitabilitas emiten itu diyakini semakin membaik sejalan dengan penguatan harga.

Sementara itu, Analis Samuel Sekuritas Indonesia Dessy Lapagu mengatakan bahwa penguatan harga batu bara berpotensi berlanjut seiring dengan efek peningkatan permintaan China akibat musim dingin akhir 2020. Dia mengatakan bahwa pihaknya berada di posisi overweight untuk ADRO.

“Namun, tampaknya akan terbatas pada kuartal I/2021,” ujar Dessy kepada Bisnis, Selasa (5/1/2021).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Finna U. Ulfah
Editor : Rivki Maulana
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper