Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tersulut Isu Merger, Penguatan Smartfren (FREN) Diprediksi Hanya Sementara

Pada perdagangan Selasa (8/12/2020) saham dengan kode FREN tersebut melambung 9 poin atau 13,04 persen ke level 78 per saham.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 09 Desember 2020  |  20:20 WIB
Smartfren Telecom - JIBI
Smartfren Telecom - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA — Saham PT Smartfren Telecom Tbk. (FREN) bergerak agresif seiring sentimen merger dengan PT Hutchinson 3 Indonesia yang belakangan ini mengudara. Sayangnya, penguatan ini diprediksi hanya sementara.

Tercatat, pada perdagangan Selasa (8/12/2020) saham dengan kode FREN tersebut melambung 9 poin atau 13,04 persen ke level 78 per saham. Bahkan, FREN menjadi satu-satunya yang menghijau di kala seluruh saham telko lainnya terkoreksi.

Tiga emiten telko besar PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT XL Axiata Tbk. (EXCL), dan PT Indosat Tbk. (ISAT) kompak melemah masing-masing 0,90 persen, 1,59 persen, dan 0,75 persen.

Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan menilai sentimen akuisisi atau merger di industri telekomunikasi bukan yang pertama kalinya terjadi dan kerap kali manjur untuk mendongkrak harga saham emiten telko.

Namun, dia menyebut sentimen ini hanya akan bertahan sementara karena investor akan mencermati seberapa jauh probabilitas merger itu akan benar-benar terjadi sehingga ketika isu ini pudar kenaikan harga saham pun mereda.

“Tapi yang jadi perhatian adalah di kondisi tekanan ekonomi seperti ini, dorongan merger sebenarnya semakin besar,” kata Alfred kepada Bisnis, Rabu (9/12/2020)

Menurutnya, jika merger antara FREN dan Hutchinson 3 terjadi, akan sangat menguntungkan posisi FREN sebagai perusahaan terbuka karena selama ini bottomline perseroan masih belum bisa berbalik untung.

Alfred menyebut jika kedua perusahaan bergabung, secara basis pelanggan dan infrastruktur perusahaan akan cukup bersaing dengan operator besar lain sehingga bisa mengerek margin dan pada akhirnya bisa mendongkrak profitabilitas perseroan.

“Contoh ketika dimerger pelanggannya bisa 60 jutaan, ini udah di level Indosat, dari sisi menara BTS juga begitu. Sudah bisa dipastikan kalau FREN ada merger tentu imbasnya positif sekali terhadap performa keuangan dan jadi katalis harga sahamnya,” tutur Alfred.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan untuk enam bulan yang berakhir tanggal 30 Juni 2020, emiten bersandi FREN mencatatkan pendapatan sebesar Rp4,30 triliun, naik 41,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Jumlah tersebut berasal dari pendapatan segmen telekomunikasi yakni pendapatan dari bisnis data Rp3,91 triliun dan pendapatan non-data Rp226,52 miliar. Kemudian ada pendapatan interkoneksi Rp61,69miliar dan pendapatan lain-lain Rp101,83 miliar.

Di saat bersamaan, beban usaha perseroan juga ikut naik 22,86 persen, dari yang semula Rp1,81 triliun menjadi Rp2,25 triliun.

Secara akumulasi, meski pendapatannya tumbuh signifikan sepanjang semester I/2020, FREN masih mencatatkan kerugian yakni Rp1,22 triliun. Jumlah tersebut bahkan lebih dalam dibandingkan kerugian semester I/2019 yang sebesar Rp1,07 triliun.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga saham smartfren telecom
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top