Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sido Muncul (SIDO) Masih Pede Catatkan Pertumbuhan Kinerja Keuangan Dua Digit

Optimisme ini didorong oleh catatan historis. Pendapatan SIDO pada kuartal keempat selalu menjadi yang terbesar dibanding kuartal-kuartal sebelumnya.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 02 Desember 2020  |  18:38 WIB
Aktivitas di pabrik pembuatan jamu Sido Muncul. - sidomuncul.co.id
Aktivitas di pabrik pembuatan jamu Sido Muncul. - sidomuncul.co.id

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten konsumer PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) masih optimis bisa mencatatkan pertumbuhan masing-masing pendapatan dan laba bersih sebesar dua digit untuk kinerja keseluruhan tahun 2020 dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Direktur Keuangan Sido Muncul Leonard mengatakan perseroan belum mengubah target akhir tahun perseroan.

“Masih belum ada perubahan dari apa yang sudah saya sampaikan sebelumnya (pertumbuhan pendapatan dan laba bersih dua digit untuk kinerja keseluruhan tahun 2020),” ungkap Leonard kepada Bisnis, Rabu (2/12/2020).

Secara data historis, pendapatan SIDO pada kuartal keempat memang selalu menjadi yang terbesar dibanding kuartal-kuartal sebelumnya.

Pada kuartal IV/2019, SIDO mencatatkan pendapatan sebesar Rp938,83 miliar, naik 14,6 persen secara tahunan dibandingkan dengan kuartal III/2019.

Sementara, pada kuartal IV/2018, perseroan juga mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 14,3 persen secara tahunan menjadi Rp819,07 miliar.

Sehingga, estimasi konsensus untuk pendapatan SIDO pada kuartal IV/2020 adalah sebesar Rp1,3 triliun, naik 38,7 persen secara tahunan.

Sementara itu, Leonard mengatakan perseroan juga berencana untuk melakukan penyesuaian harga produk pada tahun depan didukung oleh sentimen data ekonomi yakni Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan November lalu yang dianggap menguntungkan emiten konsumer.

“Ada [rencana melakukan penyesuaian harga produk]. Saya belum bisa mention, selalu sekitar inflasi,” sambungnya.

Dikutip dari pemberitaan sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi November 2020 mencapai 0,28 persen secara bulanan (month on month), lebih tinggi dari bulan Oktober yang hanya 0,07 persen.

Sementara, pada September 2020, BPS mencatat deflasi bulanan untuk terakhir kalinya yang berada di kisaran 0,05 persen, sebelum akhirnya mencatatkan inflasi pada bulan berikutnya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Kinerja Emiten sido muncul
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top