Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pemulihan Ekonomi China Topang Harga Aluminium

Berdasarkan data dari laman London Metal Exchange pada Rabu (18/11/2020), harga aluminium terpantau pada level US$1.944,50 per ton.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 18 November 2020  |  17:50 WIB
Roll forming adalah proses pengrolan dingin dengan tujuan pembentukan suatu profil baja (lapis paduan zinc atau zinc & aluminium atau zinc, aluminium, dan magnesium) menjadi produk akhir seperti atap gelombang, genteng metal, rangka atap, rangka plafon dan dinding.  - ARFI
Roll forming adalah proses pengrolan dingin dengan tujuan pembentukan suatu profil baja (lapis paduan zinc atau zinc & aluminium atau zinc, aluminium, dan magnesium) menjadi produk akhir seperti atap gelombang, genteng metal, rangka atap, rangka plafon dan dinding. - ARFI

Bisnis.com, JAKARTA— Harga aluminium melanjutkan reli positifnya dan telah kembali ke posisi US$1.900 per ton. Prospek permintaan dari China yang meningkat diyakini dapat menjaga tren kenaikan harga hingga akhir 2020.

Berdasarkan data dari laman London Metal Exchange pada Rabu (18/11/2020), harga aluminium terpantau pada level US$1.944,50 per ton. Harga aluminium kembali menembus level US$1.900 pada 11 November lalu setelah sebelumnya terjatuh ke level US$1.880 per ton.

Sementara itu, data dari Bloomberg mencatat, harga aluminium dengan kontrak 3 bulan terpantau pada level US$1.977,50 per metrik ton, menguat 26,50 poin atau 1,36 persen dibandingkan posisi pada perdagangan sebelumnya. Harga aluminium juga tengah berada dalam tren positif setelah mencatat kenaikan selama lima hari beruntun.

Analis Capital Futures Wahyu Laksono mengatakan, China masih memegang peranan penting dalam tren pergerakan harga aluminium. Sejauh ini, China masih terus melanjutkan impor baik aluminium murni maupun aluminium campuran yang membantu mengurangi limpahan pasokan di pasar global.

Sementara itu, jumlah persediaan aluminium di pasar dunia saat ini berada dibawah ekspektasi meskipun tengah memasuki musim permintaan yang rendah. Kendati demikian, para pelaku pasar memperkirakan China dapat menopang tingkat permintaan ini sejak September lalu.

“Pemulihan ekonomi yang juga mulai terjadi di negara-negara lain juga ikut membantu tren pergerakan harga aluminium dalam jangka pendek,” jelasnya saat dihubungi pada Rabu (18/11/2020).

Selain itu, sentimen vaksin virus corona juga menjadi katalis positif bagi pergerakan harga aluminium. Meski demikian, hal ini sudah diperhitungkan (priced-in) oleh para pelaku pasar yang  menyebabkan terjadinya koreksi pada sejumlah komoditas seperti emas dan tembaga.

“Dalam jangka pendek, koreksi pada komoditas ini masih wajar. Namun, ke depannya masih ada isu isu fundamental yang dapat menekan dolar AS sehingga komoditas tersebut masih dapat kembali menguat,” katanya.

Lebih lanjut, minimnya kejelasan stimulus dari pemerintah Amerika Sereikat dinilai akan membuka jalan bagi bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) untuk mengeluarkan paket stimulusnya.

Hal tersebut juga ditambah dengan langkah yang dilakukan The Fed sejauh ini masih mendukung kenaikan harga komoditas. The Fed menggunakan target rata-rata inflasi yang diperoleh dapat melewati 2 persen tanpa harus mengubah kebijakannya.

Kebijakan ini, lanjut Wahyu, sangat akomodatif dan dapat memicu pelemahan dolar AS serta menguatkan lawan dolar AS seperti mata uang lain dan komoditas seperti aluminium. Kondisi-kondisi tersebut mengarah kepada skenario yang mendukung terjadinya reflationary trade.

“Harapan pelaku pasar akan paket stimulus moneter dari The Fed akan mendukung sentimen bullish komoditas seperti aluminium dan akan mempertahankan reflationary trade yang melemahkan nilai dolar AS,” paparnya.

DI sisi lain, Wahyu mengatakan, harapan kenaikan harga aluminium juga akan dibarengi dengan meningkatnya produksi. Hal tersebut disebabkan oleh inisiatif sejumlah produsen yang membuka atau meningkatkan kapasitas pabriknya pada Agustus dan September lalu.

Lebih lanjut, kenaikan harga juga akan didukung oleh naiknya tingkat permintaan terhadap aluminium. Apalagi wacana pembukaan kembali kegiatan ekonomi dunia serta kejelasan vaksin  virus corona akan kian memperkuat fundamental global.

Wahyu memproyeksikan, pergerakan harga aluminium di sisa tahun 2020 akan berada di level US$1.900 per ton hingga US$2.000 per ton. Meski demikian, menurutnya peluang aluminium untuk menutup tahun dengan menguji level US$2.000 akan cukup sulit.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china logam aluminium
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top