Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tertekan Lonjakan Kasus Covid-19 dan Cadangan di AS, Minyak Mentah Anjlok

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember 2020 melemah 5,5 persen atau US$2,18 ke level US$37,39 per barel di New York Mercantile Exchange.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 29 Oktober 2020  |  06:25 WIB
Kilang minyak lepas pantai di Skotlandia - Bloomberg/Jason Alden
Kilang minyak lepas pantai di Skotlandia - Bloomberg/Jason Alden

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah anjlok karena melonjaknya cadangan minyak mentah Amerika Serikat (AS) menambah kekhawatiran yang diakibatkan oleh lonjakan baru kasus virus corona.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember 2020 melemah 5,5 persen atau US$2,18 ke level US$37,39 per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman bulan yang sama ditutup melemah US$2,08 ke level $ 39,12 per. Kedua kontrak mencatat penurunan harian terbesar sejak tujuh pekan terakhir. sekitar tujuh minggu

Laporan Energy Information Administration menunjukkan persediaan minyak AS naik 4,32 juta barel pekan lalu, terbesar sejak Juli. Meski begitu, data menunjukkan penurunan tak terduga pada stok bensin dan permintaan solar mencapai level tertinggi sejak Maret.

Harga sebelumnya mendapat tekanan sejalan dengan pelemahan bursa AS dan Eropa karena lonjakan baru kasus virus corona dan penerapan lockdown meningkatkan risiko tekanan terhadap perekonomian.

Penggunaan jalan di Eropa merosot ke level terendah empat bulan karena pemerintah di sana siap melakukan pembatasan yang lebih ketat untuk mengekang penyebaran virus corona. Di AS, kasus virus corona di New York mencapai lebih dari 500.000.

"Ini lebih merupakan reaksi terhadap kekhawatiran atas virus corona dan potensi pembatasan dan penguncian lebih lanjut daripada meningkatnya cadangan minyak mentah," kata mitra senior di Commodity Research Group, Andrew Lebow, seperti dikutip Bloomberg.

Risiko permintaan baru karena pandemi dan kembalinya produksi minyak Libya meningkatkan kekhawatiran bahwa pasokan tambahan dari OPEC+ mungkin tidak akan mendapatkan pembeli.

Kepala unit perdagangan Saudi Aramco memperingatkan mungkin tidak ada permintaan minyak yang cukup untuk menyerap rencana kenaikan pasokan OPEC+ pada Januari. Pelaku pasar juga berhati-hati dalam mengambil posisi beli pada minyak mentah karena prospek yang tidak pasti.

Di AS, tidak tercapainya kesepakatan paket stimulus tambahan sebelum pilpres 3 November mendatang pemilihan juga mengaburkan outlook pemulihan ekonomi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

opec harga minyak mentah

Sumber : Bloomberg

Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top