Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dear Investor, Pasar Saham Masih Volatil, Ingat Rumus 5:3:2

Di tengah pasar saham yang masih volatil, investor disarankan menggunakan skema 5:3:2 yakni 50 persen alokasi investasi ke aset berbasis obligasi, 30 persen ke pasar uang, dan sisanya 20 persen saham.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 22 Oktober 2020  |  22:21 WIB
Pengunjung memotret papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (14/9/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pengunjung memotret papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (14/9/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA—Investor disarankan agar tetap memasang strategi investasi yang konservatif hingga akhir tahun ini karena tingkat ketidakpastian pasar masih tinggi khususnya untuk aset berbasis saham. 

Head of Market Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan hingga akhir tahun pergerakan saham diperkirakan masih akan volatil karena kekhawatiran para pelaku pasar belum mereda karena pandemi Covid-19 masih belum benar-benar teratasi.

Dia menyebut pasar cenderung hanya bereaksi jangka pendek. Sebagai contoh unit penyertaan reksa dana saham sepanjang September terpantau naik. Namun dia menilai itu merupakan investor yang memanfaatkan momentum koreksi pasar.

“Biasanya begitu investor reksa dana kita, memanfaatkan momentum, istilahnya riding the wave,” kata Wawan kepada Bisnis, Kamis (22/10/2020)

Meskipun demikian, dia menyebut ekspektasi terhadap pergerakan saham akan lebih baik dengan adanya harapan mengenai ketersediaan vaksin Covid-19 di akhir tahun yang diharapkan dapat membantu aktivitas masyarakat normal kembali.

“Semoga akhir tahun vaksin bisa benar-benar ada dan bisa didistribusikan setidaknya untuk orang yang ada di sektor-sektor prioritas misalnya tenaga kesehatan. Lalu akhir tahun juga saya yakin akan ada window dressing” ujarnya.

Wawan menyarankan investor tetap konservatif dan memperkecil porsi aset  sahamnya setidaknya hingga akhir tahun ini, baik saham biasa maupun produk turunan berbasis saham seperti reksa dana saham, reksa dana campuran, reksa dana indeks, dan ETF (exchange traded fund).

Dia merekomendasikan agar investor menggunakan skema 5:3:2 yakni 50 persen alokasi investasi ke aset berbasis obligasi, 30 persen ke pasar uang, dan sisanya 20 persen saham.

Adapun, untuk tahun depan Wawan menyebut investor dapat lebih optimis dengan menukar porsi investasi aset saham dan aset pasar uang sehingga skemanya 50 persen alokasi investasi ke aset berbasis obligasi, 30 persen ke aset saham, dan sisanya 20 pasar uang.

“Kenapa obligasi masih dipertahankan 50 persen? Karena meskipun ada optimisme di pasar tapi investor tetap harus mempertimbangkan dan berhati-hati. Pendapatan tetap ini sudah terbukti tahun ini tetap tinggi walau yang lain sedang jatuh,” pungkas Wawan.  

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG reksa dana
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top