Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Potensi Cuan Jangka Pendek dan Panjang, Reksa Dana Saham Semakin Menarik

Per 30 September 2020, NAB reksa dana secara industri tercatat sebesar Rp510,14 triliun, turun 2,05 persen dari total dana kelolaan pada akhir Agustus yang mencapai Rp520,84 triliun.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 22 Oktober 2020  |  17:45 WIB
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Dana kelolaan atau nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana secara industri kembali mengalami penurunan pada September 2020.  

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per 30 September 2020, NAB reksa dana secara industri tercatat sebesar Rp510,14 triliun, turun 2,05 persen dari total dana kelolaan pada akhir Agustus yang mencapai Rp520,84 triliun.

Dari sisi unit penyertaan, jumlah unit reksa dana yang beredar per akhir September juga terpantau menyusut yakni 423,96 miliar unit, sedangkan pada bulan sebelumnya unit penyertaan reksa dana mencapai 426,56 unit.

Menariknya, mengutip dari data Infovesta Utama, unit penyertaan reksa dana saham terpantau bertumbuh 0,52 persen per akhir September 2020 dibandingkan akhir bulan sebelumnya, sekaligus menjadi satu-satunya jenis reksa dana konvensional yang mengalami kenaikan unit penyertaan.

Head of Investment Avrist Asset Management Farash Farich berpendapat tren tersebut dikarenakan oleh pemanfaatan koreksi yang akhirnya menyebabkan valuasi saham lebih murah sehingga investor cenderung ingin menambah kepemilikan reksa dana saham.

“Untuk jangka panjang, return [reksa dana saham] jadi lebih baik. Dalam jangka pendek juga ada harapan di kuartal empat biasanya rebound sehingga ada potensi capital gain jangka pendek,” ungkapnya kepada Bisnis, Kamis (22/10/2020).

Dia juga mengharapkan kondisi bisnis korporasi pada tahun 2021 mendatang akan lebih baik dibandingkan dengan tahun ini, meskipun tidak akan sebagus kondisi normal pada 2019.

Koreksi pendapatan dan laba bersih pada tahun 2020 juga disebutkannya akan membuat kinerja emiten akan terlihat lebih baik pada tahun depan. “Untuk itu investor bisa cari perusahaan dengan fundamental baik yang akan mendapatkan banyak manfaat dari perbaikan bisnis di 2021,” sambungnya.

Sementara, lanjutnya, tren perubahan konstituen pada indeks acuan akan langsung diikuti reksa dana indeks sebagai salah satu strategi pasif dalam melakukan rebalancing portofolio sesuai perubahannya.

“Kalau dalam bentuk reksa dana tetap [rekomendasi] yang ideal [adalah] reksa dana indeks berbasis IDX30 atau LQ45,” tutupnya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham investasi reksa dana
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top