Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Belum Semaju Negeri Jiran, Pelaku Pasar Modal Nantikan Instrumen Hedging

Pelaku pasar modal menilai instrumen hedging dasar yang diperlukan di pasar modal yakni lindung nilai pergerakan mata uang, lindung nilai pergerakan suku bunga, dan lindung nilai risiko default atau gagal bayar.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 19 Oktober 2020  |  18:16 WIB
Pengunjung memfoto layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di galeri PT Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (6/2/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Pengunjung memfoto layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di galeri PT Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (6/2/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com,JAKARTA— Indonesia dinilai masih perlu mengembangkan instrumen hedging atau lindung nilai di pasar modal untuk menahan aksi jual atau sell off saat terjadi volatilitas tinggi.

Presiden Direktur RHB Sekuritas Indonesia Iwanho mengatakan hedging di pasar modal Indonesia belum semaju di negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. 

Menurutnya, instrumen hedging dasar yang diperlukan di pasar modal yakni lindung nilai pergerakan mata uang, lindung nilai pergerakan suku bunga, dan lindung nilai risiko default atau gagal bayar.

Iwanho mengatakan instrumen hedging yang belum berkembang menyebabkan biaya investasi di Indonesia relatif mahal. Oleh karena itu, pihaknya berharap Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat segera melakukan pengembangan instrumen tersebut.

“Diharapkan OJK bisa segera mengembangkan ketiga instrumen di atas sehingga biaya hedging terhadap gejolak mata uang, suku bunga, dan risiko default akan jauh berkurang,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (19/10/2020).

Dia mengatakan investor asing dan lokal dapat menggunakan instrumen hedging untuk  untuk untuk mengurangi risiko pergerakan pasar. Dia menilai, dengan adanya instrumen lindung nilai, investor tidak segera keluar atau melakukan aksi jual jika terjadi volatilitas mata uang, suku bunga, dan risiko default.

Secara terpisah, Analis PT Kresna Securities Etta Rusdiana Putra mengatakan Indonesia harus meningkatkan penetrasi di pasar spot terlebih dahulu. Menurutnya, likuiditas di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan dengan kapitalisasi pasarnya.

“Sebaiknya, fokus terlebih dahulu pada pengaturan mekanisme market maker atau liquidity provider dan batasan yang dapat dilakukan,” jelasnya.

Etta menambahkan edukasi finansial harus ditingkatkan termasuk penyederhanaan proses pembukaan rekening efek. Dengan demikian, jumlah dan basis investor semakin besar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG bursa efek indonesia hedging
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top