Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bos Bursa Efek (BEI) Jawab Kritik Asing Soal Instrumen Hedging

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengakui pasar modal di dalam negeri memang kekurangan instrumen hedging. Untuk itu, BEI juga berupaya menciptakan instrumen-instrumen tersebut.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 19 Oktober 2020  |  17:23 WIB
Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi (tengah) didampingi Direktur Penilaian Perusahaan I Gede Nyoman Yetna (kanan) dan Direktur Keuangan dan Sumber Daya Manusia Risa E. Rustam memberikan keterangan pada paparan publik perusahaan di Jakarta, Rabu (26/6/2019). - Bisnis/Himawan L Nugraha
Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi (tengah) didampingi Direktur Penilaian Perusahaan I Gede Nyoman Yetna (kanan) dan Direktur Keuangan dan Sumber Daya Manusia Risa E. Rustam memberikan keterangan pada paparan publik perusahaan di Jakarta, Rabu (26/6/2019). - Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com,JAKARTA — PT Bursa Efek Indonesia siap menjawab kritikan investor asing terkait minimnya instrumen lindung nilai atau hedging di pasar modal Indonesia.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi mengatakan instrumen hedging di pasar modal dalam negeri memang masih minim. Tugas ke depan yang dimiliki menurutnya yakni menciptakan instrumen hedging. 

“Dalam waktu dekat, tugas kita kedepannya menciptakan instrumen hedging, misalnya interest rate future, currency swap yang wajar transparan dan efisien. Tugas Bursa menyiapkan infrastrukturnya,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (19/10/2020).

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengungkapkan keluhan yang disampaikan oleh investor asing. Menurutnya, kebanyakan kritik disampaikan terkait instrumen hedging yang belum lengkap.

Wimboh mengatakan instrumen hedging saat ini belum lengkap baik mulai dari nilai tukar maupun risiko suku bunga serta hedging default  yang belum begitu banyak. Hal ini menyebabkan investor asing langsung melakukan aksi jual saat pasar diterpa sentimen negatif. 

“Mereka sell off karena tidak ada hedging yang mumpuni. Toh, kalau ada cukup mahal terutama nilai tukar,” ujarnya dalam pembukaan Capital Market Summit & Expo 2020 secara virtual, Senin (19/10/2020).

Berdasarkan data PT Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing mencetak net sell atau jual bersih Rp394,37 miliar pada Senin (19/10/2020). Sepanjang periode berjalan 2020, investor asing membukukan jual bersih Rp46,939 triliun.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa efek indonesia OJK
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top