Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kinerja Ciamik 6 Hari Terhenti, Rupiah Ditutup Melemah

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah setelah enam hari tak tergoyahkan. ank Indonesia menyebut level rupiah saat ini terbilang undervalue.
M. Richard
M. Richard - Bisnis.com 13 Oktober 2020  |  15:18 WIB
Karyawati menghitung uang dolar AS di Jakarta, Rabu (16/9/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Karyawati menghitung uang dolar AS di Jakarta, Rabu (16/9/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah enam sesi tak tergoyahkan. Bank Indonesia menyebut level rupiah saat ini terbilang undervalue.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp14.725 per dolar AS pada penutupan hari ini, Selasa (13/10/2020). Level tersebut melemah 25 poin atau 0,17 persen dibandingkan dengan posisi penutupan kemarin di Rp14.700.

Pada perdagangan hari ini, rupiah dibuka di level 14.695, menguat 5 poin dibandingkan posisi penutupan terakhir. Rupiah bergerak di rentang 14.695 hingga Rp14.747 sepanjang perdagangan. 

Sementara itu indeks dolar yang mengukur kekuatan mata uang Negeri Paman Sam terhadap sekeranjang mata uang utama dunia menguat 0,21 ke posisi 93,2580.

Mata uang Asia sebagian besar juga melemah terhadap dolar AS. Pelemahan dipimpin oleh peso Filipina yang melemah 0,22 persen, disusul dolar Taiwan sebesar 0,20 persen. 

Di lain pihak, beberapa mata uang Asia menguat, antara lain baht Thailand dan ringgit Malaysia. Baik baht maupun ringgit sama-sama menguat 0,06 persen.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan nilai tukar rupiah saat ini yang berada di kisaran 14.700 tergolong undervalued atau berada di bawah fundamentalnya.

Dia beralasan,  beberapa indikator penguatan seperti transaksi berjalan, inflasi, dan premi risiko justru masih dalam kondisi yang baik khususnya pada paruh kedua tahun ini.

"Kami memandang potensi akan menguat dengan seiring didukung dengan defisit transaksi berjalan yang rendah, inflasi yang rendah di bawah 2%, dan daya tarik dalam negeri yang cukup kuat serta premi risiko yang turun," katanya usai Rapat Dewan Gubernur BI, Selasa (13/10/2020).

Dia menyebutkan otoritas moneter pun masih memiliki kemampuan yang cukup untuk dapat menjaga stabilitas rupiah pada akhir tahun ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank indonesia Rupiah
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top