Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Saham Rokok Kompak Mengepul, Terpantik Isu Cukai?

Hingga pukul 14.08 WIB, empat saham produk tembakau naik 3,56 persen hingga 9,82 persen.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 05 Oktober 2020  |  14:27 WIB
Karyawan melakukan proses pelintingan rokok di area sigaret kretek tangan (SKT) di PT Gelora Djaja di Surabaya, Jawa Timur. - Antara/M Risyal Hidayat
Karyawan melakukan proses pelintingan rokok di area sigaret kretek tangan (SKT) di PT Gelora Djaja di Surabaya, Jawa Timur. - Antara/M Risyal Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Empat saham emiten produk tembakau kompak menguat sejak awal perdagangan hingga satu jam menjelang penutupan. 

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, saham PT Gudang Garam Tbk, PT HM Sampoerna Tbk, dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk. naik berkisar 3,56 persen hingga 9,82 persen hingga pukul 14.08 WIB. Saham produsen tembakau iris PT Indonesian Tobbaco Tbk. juga naik 3,97 persen.

Saham Berkode GGRM dibuka naik 450 poin ke posisi 40.450 di awal perdagangan. Hingga sejam menjelang bursa tutup lapak, saham GGRM naik 1.650 poin atau 4,12 persen.

Total transaksi saham mencapai 1,59 juta lembar dengan nilai transaksi Rp65,68 miliar.

Sementara itu, saham HMSP dibuka 10 poin lebih tinggi dan terpantau menguat 3,56 persen ke posisi 1.455 pada pukul 14.08 WIB. Transaksi saham HMSP mencapai 26,72 juta lembar dengan nilai transaksi Rp38,77 miliar.

Mengekor di belakang GGRM dan HMSP adalah PT Wismilak Inti Makmur Tbk. Saham WIIm dibuka di level 326 dan bergerak di rentang 324 hingga 358 hingga pukul 14.08 WIB.

Total transaksi saham WIIM mencapai 69,25 juta lembar dengan nilai transaksi Rp23,96 miliar.

Sebelumnya, Kementerian Keuangan melansir bakal mengumumkan kebijakan cukai hasil tembakau pada 2021 di akhir September atau awal Oktober.

Hal ini ditegaskan Direktur Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi saat dihubungi terkait rencana pelaksanaan kebijakan tersebut.

"Ya, seperti tahun-tahun sebelumnya kalau enggak akhir September ini ya awal Oktober," kata Heru kepada Bisnis, Kamis (24/9/2020).

Heru tak mau memberikan gambaran soal formulasi kenaikan tarif cukai hasil tembakau. Tarif cukai hasil tembakau biasanya dihitung dari target inflasi dan proyeksi pertumbuhan ekonomi pada tahun depan.

Namun, Direktur Teknis dan Fasilitas Cukai Ditjen Bea Cukai (DJBC) Nirwala Dwi Heryanto memastikan bahwa pemerintah juga mempertimbangkan kondisi pandemi yang telah menurunkan konsumsi rokok.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri rokok Bea Cukai Cukai Rokok
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top