Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Deflasi 3 Bulan Beruntun, Rupiah Belum Goyah

Rupiah menguat 0,25 persen hingga sesi pertama perdagangan hari ini. Level rupiah saat ini yang terkuat sejak 23 September 2020.
Dwi Nicken Tari & Jaffry Prabu Prakoso
Dwi Nicken Tari & Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 01 Oktober 2020  |  12:30 WIB
Karyawati menghitung uang dolar AS di Jakarta, Rabu (16/9/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Karyawati menghitung uang dolar AS di Jakarta, Rabu (16/9/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat 37,5 poin atau 0,25 persen hingga pukul 10.54 WIB. Rupiah masih kokoh walau dari dalam negeri terdapat sentimen deflasi tiga bulan berturut-turut yang mencerminkan daya beli masih lemah.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah bertengger di posisi Rp14.842,5 per dolar AS. Mata uang garuda dibuka di level Rp14.180 atau menguat 70 poin dibandingkan dengan posisi penutupan kemarin.

Sementara itu, nilai tukar rupiah bertengger di level Rp14.876, berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor. Data yang diterbitkan Bank Indonesia menunjukkan, kurs Jisdor menguat 42 poin dibandingkan dengan posisi kemarin Rp14.918.

Di sisi lain, indeks dolar AS terpantau 0,21 persen ke level 93,6910. Pelemahan itu direspons dengan penguatan oleh mayorita mata uang Asia. Penguatan dipimpin oleh won Korea Selatan yang menguat 0,60 persen, disusul yuan China dan rupiah.

Portfolio Manager Gradient Investments LLC. Mariann Motagne mengatakan volatilitas pasar akan bertambah tinggi pada Oktober seiring dengan semakin dekatnya pelaksanaan Pemilu AS.

“Dolar AS akan melanjutkan penguatannya sedikit dan itu merupakan fungsi dari volatilitas di sini, relatif tumbuh dibandingkan mata uang lain tapi sepertinya hanya sementara,” kata Motagne, seperti dikutip Bloomberg, Kamis (1/10/2020).

Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada September 2020 mengalami deflasi sebesar 0,05 persen. Ini merupakan deflasi ketiga secara beruntun sejak Juli 2020.

Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan dari deflasi tiga kali berturut-turut, daya beli masyarakat patut diwaspadai

"Ini menunjukkan daya beli kita masih sangat lemah. Itu yang perlu diwaspadai dari tiga kali defisit," ujarnya, Kamis (1/10/2020).

Dari data BPS, deflasi beruntun pernah terjadi pada 1999, tepat satu tahun ketika krisis keuangan 1998. Suhariyanto mengatakan deflasi pada 1999, terjadi selama 7 bulan berturut-turut, yakni sejak Maret hingga September.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah dolar as deflasi Pilpres as 2020
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top