Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Emiten Farmasi Prospektif Hingga Tahun Depan

Kinerja emiten di sektor ini dinilai masih positif seiring dengan kemajuan dalam pengembangan vaksin virus corona.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 21 September 2020  |  19:32 WIB
Pedagang obat menunggu pembeli di Pasar Pramuka, Jakarta, Selasa (11/02/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pedagang obat menunggu pembeli di Pasar Pramuka, Jakarta, Selasa (11/02/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten farmasi dinilai masih prospektif hingga awal tahun depan hal ini sejalan dengan pengembangan vaksin Covid-19 di dalam dan luar negeri. 

Adapun, bersamaan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup pada zona merah, pergerakan emiten sektor farmasi juga bergerak di zona negatif.

Di antara 11 emiten yang tergabung dalam emiten sektor farmasi, hanya satu emiten farmasi yang ditutup menghijau pada perdagangan Senin (21/9/2020).

Emiten tersebut adalah PT Soho Global Health Tbk. (SOHO) yang baru saja melantai di bursa pada Selasa (8/9/2020) lalu tersebut lagi-lagi ditutup dengan kenaikan 19,82 persen ke level Rp13.600 pada perdagangan awal pekan ini.

Semenjak IPO pada level harga Rp1.820, saham produsen suplemen Imboost tersebut sudah menguat hingga 647,25 persen.

Sementara, emiten PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) dan PT Darya-Varia Laboratoria Tbk. (DVLA) ditutup stagnan masing-masing pada level Rp770 dan Rp2.400.

Di sisi lain, 7 emiten lain bergerak pada posisi negatif dibarengi dengan satu lain yakni PT Merck Sharp Dohme Pharma Tbk. (SCPI) yang tidak diperdagangkan hari ini karena sedang disuspensi.

Pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy mengungkapkan bahwa prospek emiten farmasi masih bagus sampai awal tahun atau hingga ditemukannya vaksin Covid-19.

“Hal ini dikarenakan konsumsi obat dan vitamin sekarang menjadi kebutuhan primer seperti makanan sehari-hari,” tutur Budi kepada Bisnis, Senin (21/9/2020). 

Namun, ia menilai jika harga saham emiten farmasi terus melambung maka penting bagi investor untuk realistis dan tidak terlalu berharap pada capital gain.

Di sisi lain, analis Phillip Sekuritas Anugerah Zamzami Nasr mengatakan sentimen vaksin masih menjadi isu yang menyelimuti pergerakan harga saham emiten farmasi.

Adapun, ia beranggapan bahwa pergerakan harga saham emiten farmasi yang naik signifikan belum tentu sejalan dengan kinerja keuangannya.

“Tapi, sepertinya investor cenderung suka pada emiten farmasi apapun itu, karena ekspektasi konsumsi obat-obatan dan produk kesehatan akan meningkat di tengah pandemi seperti ini,” ungkapnya kepada Bisnis, Senin (21/9/2020).

Ia menilai, pergerakan harga saham SOHO yang meningkat drastis cenderung diakibatkan oleh kapitalisasi pasar yang kecil sehingga sangat terdorong secara signifikan oleh minat beli dan arus dana yang besar.

“Kami masih (merekomendasikan) KLBF (PT Kalbe Farma Tbk.) dan SIDO karena memiliki growth yang stabil dan konsisten, margin yang lebih baik, profitabilitas juga lebih baik,” terangnya.

Zamzami menggarisbawahi bahwa kinerja keuangan KLBF dan SIDO juga cukup kuat tercermin dari posisi net cash sehingga layak untuk dikoleksi. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Kinerja Emiten emiten farmasi
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top