Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sektor Teknologi Seret Wall Street ke Level Terendah Enam Pekan

Berdasarkan data Bloomberg, indeks S&P 500 ditutup melemah 1,1 persen ke level 3.319.27 akhir perdagangan Jumat (18/9/2020), penurunan terbesar dalam lebih dari sepekan terakhir.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 19 September 2020  |  06:08 WIB
Tanda Wall Street tampak di depan Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS. -  Michael Nagle / Bloomberg
Tanda Wall Street tampak di depan Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS. - Michael Nagle / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Sektor teknologi mendorong bursa saham Amerika Serikat ke level terendah dalam enam pekan terakhir karena investor mencari katalis baru untuk memberikan arahan ke pasar global.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks S&P 500 ditutup melemah 1,1 persen ke level 3.319.27 akhir perdagangan Jumat (18/9/2020), penurunan terbesar dalam lebih dari sepekan terakhir.

Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,9 persen ke level 27.657,29 dan indeks Nasdaq Composite merosot 1,1 persen ke level 10.793,28, terendah dalam lebih dari lima pekan.

Inedks S&P 500 turun untuk hari ketiga setelah berfluktuasi sepanjang perdagangan menjelang periwtiwa kuartalan yang disebut "quadruple witching" pada hari Jumat, yang biasanya memicu peningkatan volume perdagangan dan terkadang volatilitas saat posisi derivatif besar berakhir.

Saham Oracle Corp. melemah setelah AS mengatakan akan melarang sejumlah transaksi melalui TikTok, dan akan ditutup kecuali kesepakatan diselesaikan sebelum 12 November. Apple Inc. dan Microsoft Corp. juga turut membebani Nasdaq Composite.

"Investor menghadapi konflik antara tingkat ketidakpastian yang sangat tinggi ini dan ketakutan akan ketinggalan (fear of missing out/FOMO), ketakutan bahwa pasar dapat terus bergerak menguat," kata ekonom dan analis portofolio multi-aset New York Life Investments, Lauren Goodwin, seperti dikutip Bloomberg.

Ketegangan antara ketidakpastian dan FOMO terlihat jelas,” lanjutnya.

Investor tengah mencari lebih banyak stimulus fiskal AS setelah Federal Reserve mengindikasikan bahwa suku bunga akan tetap rendah untuk tahun-tahun mendatang.

Sementara itu, data terus menunjukkan jalur pemulihan yang tidak merata di seluruh dunia seiring lonjakan infeksi virus corona. Kasus harian Prancis naik lebih dari 10.000 ke level tertinggi sejak berakhirnya lockdown pada bulan Mei.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as wall street
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top