Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sederet Tekanan Bikin IPO Keluarga BUMN Terus Molor

Sebagian besar BUMN menyatakan mundurnya rencana IPO disebabkan oleh pandemi Covid-19 dan situasi makro ekonomi.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 18 September 2020  |  06:56 WIB
Pengunjung memotret papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (14/9/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pengunjung memotret papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (14/9/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — Sederet rencana penawaran umum perdana saham emiten keluarga badan usaha milik negara (BUMN) belum terealisasi hingga menjelang akhir kuartal III/2020. 

Kondisi pasar modal dan makro yang kurang bersahabat sepanjang tahun ini membuat rencana melepas saham kepada publik tertunda. Berdasarkan data PT Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga Kamis (17/9/2020), tercatat sebanyak 46 emiten baru melantai sepanjang periode berjalan 2020. 

Namun, tidak ada satu pun pendatang baru dari induk atau entitas anak badan usaha milik negara (BUMN). BEI terakhir kali kedatangan emiten baru dari keluarga BUMN pada akhir Desember 2018.

Sekretaris Perusahaan PT Hutama Karya (Persero) Muhammad Fauzan mengungkapkan rencana penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) anak usaha masih dalam persiapan. Perseroan menurutnya akan membawa PT HK Infrastruktur (HKI), PT HK Realtindo (HKR), dan PT Hakaaston (HKA).

“Dengan adanya Covid-19, maka rencana IPO akan diperkirakan pada 2021 atau 2022,” jelasnya kepada Bisnis, Kamis (17/9/2020).

Fauzan mengatakan keputusan anak usaha mana yang akan IPO lebih dulu sangat tergantung kajian dan kondisi pasar saat keputusan dibuat. Selain itu, perseroan juga akan melihat momentum.

“Persiapan seperti program yang sudah dibuat dan masih on track,” imbuhnya.

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. sebelumnya telah menyampaikan rencana untuk membawa PT Wijaya Karya Realty (Wika Realty) pada 2020. Kontraktor pelat merah itu menargetkan penghimpunan dana lewat initial public offering (IPO) hingga Rp2 triliun dengan melepas 35 persen saham kepada publik.

Emiten berkode saham WIKA itu juga pernah menyatakan akan membawa PT Wijaya Karya Industri & Konstruksi (Wikon) juga melantai di Bursa Efek Indonesia. Rencana kepemilikan saham yang akan dilepas kepada publik sebanyak 20 persen hingga 30 persen dengan target dana Rp1,2 triliun—Rp1,8 triliun.

Saat dimintai konfirmasi Bisnis, Sekretaris Perusahaan Wijaya Karya Mahendra Vijaya menyatakan mengevaluasi ulang rencana IPO Wika Realty dan Wikon. Keputusan itu setelah mempertimbangan kondisi pandemi Covid-19 dan situasi makro ekonomi.

“Kami belum bisa memastikan waktunya,” ujarnya.

Di lain pihak, Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan akan membawa PT Krakatau Bandar Samudera, PT Krakatau Tirta Industri, PT Krakatau Industrial Estate Cilegan, dan PT Krakatau Daya Listrik untuk IPO. Akan tetapi, rencana itu menurutnya akan dieksekusi pada waktu yang tepat.

Sebelumnya, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT PP (Persero) Tbk. Agus Purbianto mengungkapkan awalnya merencanakan IPO PT PP Infrastruktur pada 2021. Akan tetapi, rencana itu kembali mundur akibat penyebaran pandemi Covid-19.

Emiten berkode saham PTPP itu mengharapkan dapat melepas 30 persen kepemilikan di PP Infrastruktur lewat IPO. Dari situ, perseroan ingin mendapatkan dana segar Rp1,2 triliun hingga Rp1,3 triliun.

“Kalau di bawah Rp1 triliun tidak akan IPO. PP Infrastruktur paling dekat 2022,” paparnya.

 

 Alternatif Lain

Associate Director BUMN Research Group (BRG) LM-Universitas Indonesia Toto Pranoto menilai rencana IPO keluarga BUMN tidak terlepas dari ketidakpastian yang muncul akibat virus Covid-19. Pasalnya, belum ada kepastian kapan pandemi akan berakhir.

“Hal ini tentu berimbas  juga kepada kondisi pasar dimana pilihan investasi menjadi sangat konservatif. Instrumen saham termasuk dianggap volatil sehingga share investasi di sini berkurang proporsinya,” paparnya.

Dengan demikian, lanjut dia, wajar IPO keluarga BUMN ditunda sampai tahun depan atau bahhkan sampai 2022. Keputusan itu menunggu sampai efek pandemi betul-betul reda.

Toto menilai terdapat perbedaan antara perusahaan swasta dan BUMN untuk sumber pembiayaan. Menurutnya, alternatif pendanaan sektor swasta lebih terbatas dibandingkan dengan pelat merah sehingga IPO jadi pilihan utama.

“BUMN masih bisa mengharapkan dukungan negara dalam bentuk PMN atau bentuk fasilitas lainnya,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BUMN ipo
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top