Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Menjelang Pertemuan The Fed, Harga Emas Masih Rehat dari Zona Hijau

Jika pidato Jerome Powell bernada dovish, a emas berpeluang kembali mendapatkan tenaga untuk kembali ke level US$2.000 per troy ounce. Sebaliknya jika bernada hawkish, emas akan melanjutkan tren pelemahan.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 27 Agustus 2020  |  20:03 WIB
Emas batangan 24 karat ukuran 1oz atau 1 ons, setara 28,34 gram. Harga emas mengalami pergerakan ekstrim pada pekan ini yang mana sempat turun ke level US1.800 per ons beberapa hari setelah memecahkan rekor harga tertinggi. - Bloomberg
Emas batangan 24 karat ukuran 1oz atau 1 ons, setara 28,34 gram. Harga emas mengalami pergerakan ekstrim pada pekan ini yang mana sempat turun ke level US1.800 per ons beberapa hari setelah memecahkan rekor harga tertinggi. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Emas tampak rehat dari reli ciamiknya pada tahun ini seiring dengan fokus pasar yang menanti kepastian kebijakan moneter Bank Sentral AS dan meningkatnya sentimen berisiko yang memudarkan minat investor mengumpulkan logam mulia sebagai aset safe haven.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Kamis (27/8/2020) hingga pukul 20.02 WIB, harga emas di pasar spot kembali melenggang di zona merah, terkoreksi 0,74 persen ke level US$1.940,05 per troy ounce.

Padahal, pada penutupan perdagangan Rabu (26/8/2020) emas sempat naik hingga 1,36 persen ke level US$1.954,46 per troy ounce, setelah menetap di zona merah selama tiga hari perdagangan berturut-turut.

Sementara itu, harga emas berjangka untuk kontrak Desember 2020 di bursa Comex bergerak melemah tipis 0,10 persen ke level US$1.950 per troy ounce.

Sejak menyentuh level tertingginya sepanjang masa pada awal Agustus di level US$2.063,54 per troy ounce, emas terus menurun atau terkoreksi 5,36 persen ke level saat ini. Apalagi pada pekan ini,pejabat tinggi perdagangan AS dan China menegaskan kembali komitmen mereka untuk kesepakatan perdagangan Fase 1.

Hal ini turut menambah berita positif atas kemajuan dalam mengembangkan pengobatan untuk Covid-19 yang menyurutkan minat investor untuk berada di posisi beli terhadap emas.

Kendati demikian, sepanjang tahun berjalan 2020, harga emas telah bergerak menguat hingga 28,36 persen.

Analis Kotak Securities Madhavi Metha mengatakan bahwa pelemahan harga terjadi menjelang simposium tahunan Jackson Hole Federal Reserve yang dilakukan pada 27-28 Agustus 2020.

Dalam pertemuan tersebut, Ketua The Fed Jerome Powell dijadwalkan memberikan pidato terkait tinjauan kerangka kebijakan moneter bank sentral AS di tengah pandemi. 

Investor akan mengawasi setiap panduan tentang pendekatan baru The Fed untuk melaksanakan kebijakan, yang dapat diumumkan secepatnya bulan depan, serta komentar tentang pemulihan dari pandemi.

Jika pidato Jerome Powell bernada dovish, a emas berpeluang kembali mendapatkan tenaga untuk kembali ke level US$2.000 per troy ounce. Sebaliknya jika bernada hawkish, emas akan melanjutkan tren pelemahan.

“The Fed sejauh ini menyatakan bersedia untuk mengambil langkah apapun untuk menjaga ekonomi AS. Namun, tidak ada urgensi untuk bertindak karena pasar ekuitas AS cenderung kuat dan indikator ekonomi sudah mengarah ke pemulihan, bahkan jika pada kecepatan yang tidak merata,” ujar Metha seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (27/8/2020)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Emas Hari Ini Kebijakan The Fed harga emas comex
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top