Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Setelah DIRE, Kini Giliran EBA Terdampak Pandemi

Dampak pandemi Covid-19 semakin meluas di industri investasi alternatif. Setelah membuat produk Dana Investasi Real Estat (DIRE) milik PT Ciptadana Asset Management akan dilikuidasi, kini giliran produk kontrak investasi kolektif Efek Beragun Aset (KIK-EBA) dari PT Mandiri Manajemen Investasi yang terancam gagal bayar.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 28 Juli 2020  |  08:29 WIB
Pesawat milik maskapai penerbangan Garuda Indonesia bersiap melakukan penerbangan di Bandara internasional Sam Ratulangi Manado, Sulawesi Utara akhir pekan lalu (8/1/2017). - Bisnis/Dedi Gunawan\\n
Pesawat milik maskapai penerbangan Garuda Indonesia bersiap melakukan penerbangan di Bandara internasional Sam Ratulangi Manado, Sulawesi Utara akhir pekan lalu (8/1/2017). - Bisnis/Dedi Gunawan\\n

Bisnis.com, JAKARTA — Dampak pandemi Covid-19 semakin meluas di industri investasi alternatif. Setelah membuat produk Dana Investasi Real Estat (DIRE) milik PT Ciptadana Asset Management akan dilikuidasi, kini giliran produk kontrak investasi kolektif Efek Beragun Aset (KIK—EBA) dari PT Mandiri Manajemen Investasi yang terancam gagal bayar.

Wawan Hendrayana, Head of Investment Research Infovesta Utama, menilai pandemi Covid-19 yang tidak terprediksi sebelumnya menjadi penyebab utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. menunda kewajiban terhadap pembayaran amortisasi pokok kedua EBA Mandiri GIAA01 – Surat Berharga Hak atas Pendapatan Penjualan Tiket Kelas A (MGIA01).

“Waktu EBA Garuda ini diterbitkan, itu dianggap super aman karena penjualan tiketnya untuk keberangkatan haji. Garuda Indonesia kan setiap tahun pasti ada memberangkatkan jamaah haji,” jelas Wawan, Senin (27/7/2020).

Namun, mewabahnya Covid-19 sejak awal tahun mendorong pemerintah untuk melakukan pembatasan sosial. Untuk mengurangi perpindahan orang, pemerintah di beberapa daerah membatasi transportasi darat dan bahkan menutup akses transportasi laut dan udara. Hal itu pun membuat pendapatan Garuda Indonesia turun hingga 90 persen.

Untuk produk EBA lainnya, Wawan menilai prospek dan risikonya harus diukur berdasarkan underlying asset yang digunakan serta perusahaan yang menerbitkan.

Dirinya menilai untuk EBA yang dikeluarkan oleh perusahaan dengan cashflow yang kuat masih aman untuk saat ini. Namun demikian, risiko terganggunya pemasukan perusahaan penerbit dari dampak Covid-19 tetap harus menjadi perhatian para investor.

“Kalau bicara tentang EBA ini tergantung kepada underlying asset-nya. Tidak berarti semua EBA itu jelek tahun ini,” tutur Wawan.

Adapun, beberapa EBA lainnya yang terdaftar di BEI memiliki aset dasar seperti tagihan kredit pensiunan, putang korporasi, KPR, piutang usaha, dan pendapatan jalan tol.

Untuk EBA dengan underlying asset KPR, Wawan menilai risikonya juga tengah meningkat karena ada potensi nasabah yang mengalami kesulitan untuk membayar KPR pada masa pandemi. Belum lagi, perbankan juga dihadapkan dengan ancaman tingginya tingkat kredit macet (non performing loan/NPL).

Dengan demikian, Wawan menyarankan kepada investor untuk terus mencermati keberlangsungan usaha dari emiten penerbit EBA, terutama dari sisi aliran kas perusahaan.

“Kalau tahun-tahun sebelumnya mungkin kita melihatnya adalah proyeksi pendapatan perusahaannya, tapi tahun ini lebih ke keberlangsungan usaha emiten,”ujar Wawan.

Adapun, investor yang memegang EBA disebut Wawan saat ini masih banyak dari kalangan institusi yang akan memegang sampai jatuh tempo (hold to maturity).

Sementara untuk penerbitan EBA, Wawan menyebut emiten telekomunikasi atau menara telko masih berpotensi untuk dapat menerbitkan produk investasi alternatif tersebut. Pasalnya, kedua sektor ini memiliki prospek keberlangsungan usaha di masa pandemi.

Di sisi lain, EBA dari sektor transportasi dan konstruksi diperkirakan bakal sulit diterima pasar setidaknya hingga dampak Pandemi terhadap sektor ril dapat diminimalisir.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Garuda Indonesia efek beragun aset pt mandiri manajemen investasi
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

BisnisRegional

To top