Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Harga Pulih, Emiten Logam Pede Capai Target 2020

Tak hanya logam mulia, harga logam dasar juga mulai mencatat return positif memasuki paruh kedua tahun ini.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 10 Juli 2020  |  08:15 WIB
Suasana di area pertambangan konsesi Tambang Tumpang Pitu (Tujuh Bukit) milk PT Bumi Suksesindo (BSI), anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk, di Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (23/7/2018). - JIBI/Abdullah Azzam
Suasana di area pertambangan konsesi Tambang Tumpang Pitu (Tujuh Bukit) milk PT Bumi Suksesindo (BSI), anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk, di Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (23/7/2018). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten pertambangan logam semakin percaya diri dapat mencapai target kinerja keuangan 2020 seiring dengan pulihnya harga logam dasar.

Memasuki paruh kedua tahun ini, tidak hanya harga logam mulia yang berkilau tetapi harga logam dasar pun sudah mulai berpendar. Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Rabu (8/7/2020) harga nikel di bursa LME bergerak naik 0,1 persen ke level US$13.493 per ton.

Penguatan itu pun diikuti oleh harga tembaga yang juga naik 0,71 persen ke level US$6.232, kembali ke levelnya pada awal tahun. Kemudian, timah pun juga mengekor dengan bergerak menguat 0,62 persen ke US$17.075 per ton

Direktur Keuangan PT Vale Indonesia Tbk. Bernardus Irmanto mengatakan bahwa dengan harga nikel yang berada di jalur kenaikan, pihaknya optimistis dapat mencapai target kinerja keuangan 2020 meskipun masih diterpa banyak tantangan bisnis akibat pandemi Covid-19.

“Harga nikel saat ini masih berkisar di kisaran US$12.000 hingga US$13.000 per ton, kalau angkanya lebih naik lagi di paruh kedua, mudah-mudahan kinerja keuangan bisa menjadi lebih baik,” ujar Bernardus kepada Bisnis, Rabu (8/7/2020).

Dia pun mengaku tidak menyiapkan strategi khusus menghadapi kenaikan harga itu, baik dari mencari pasar baru maupun memaksimalkan produksi. Perseroan hanya akan melakukan inisiatif meningkatkan reliabilitas aset dan juga waste elimination yang akan menunjang kinerja perusahaan ke depan.

Pasalnya, penjualan emiten berkode saham INCO itu mayoritas ke pihak afiliasi, yaitu Vale Jepang dan Sumitomo, yang diatur dalam kontrak jangka panjang dengan menggunakan harga di bursa LME.

Bernardus juga menjelaskan hingga saat ini tidak ada permintaan untuk pengurangan penjualan dari offtaker sehingga perseroan belum akan merevisi target dan panduan yang sudah ditetapkan awal tahun ini.

Adapun, pada kuartal pertama tahun ini INCO berhasil mencatatkan penjualan sebesar US$174,7 juta naik 38,21 persen dari posisi kuartal I/2019 US$126,4 juta. Selain itu, perseroan juga berhasil membalikkan posisi rugi bersih pada kuartal I/2019 sebesar US$20,2 juta, menjadi laba bersih sebesar US$29 juta pada kuartal I/2020.

INCO telah memproduksi nikel sebanyak 17.614 metrik ton dan menjual 16.713 metrik ton pada kuartal I/2020. Realisasi produksi itu lebih tinggi 34,6 persen daripada produksi kuartal yang sama tahun lalu sebesar 13.080 ton.

Sementara itu, SVP Corporate Secretary PT Aneka Tambang Tbk.  Kunto Hendrapawoko mengatakan bahwa kenaikan harga logam dasar saat ini akan menjadi bekal baik bagi perseroan untuk memenuhi target yang telah dicanangkan pada awal tahun.

“Seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi global dan bertumbuhnya tingkat permintaan nikel, perseroan optimistis dapat meningkatkan marjin keuntungan dari bisnis nikel pada 2020,” ujar Kunto kepada Bisnis, Kamis (9/7/2020).

Hal itu pun akan didukung oleh biaya tunai produksi perseroan yang berhasil menjadi salah satu yang terendah di antara produsen feronikel global lainnya. Emiten berkode saham ANTM itu berhasil memiliki biaya tunai produksi sebesar US$3,35 per pon sepanjang operasi kumulatif lima bulan pertama 2020.

Capaian itu turun 15 persen dibandingkan dengan rata-rata biaya tunai produksi periode yang sama tahun lalu sebesar US$3,95 per pon. Bahkan, berdasarkan studi konsultan Wood Mackenzie, capaian biaya tunai produksi ANTM berada di bawah rata-rata produsen feronikel global di kisaran US$4,85 per pon.

Perseroan juga akan fokus mempertahankan pasar ekspor nikel, terutama wilayah Asia Timur seperti China dan Korea Selatan, seiring dengan pasar India yang masih menerapkan lockdown. Untuk pasar baru, ANTM tengah menjajaki beberapa pasar potensial, dengan bidikan utama adalah pasar Uni Eropa.

Selain itu, pada pada paruh kedua tahun ini ANTM juga akan lebih fokus pada pasar domestik, terutama untuk komoditas emas seiring dengan meningkatnya permintaan dari segmentasi pasar tersebut.

Adapun, target produksi ANTM tahun ini untuk komoditas emas di kisaran 2 ton per tahun yang berasal dari tambang Pongkor dan Cibaliung, sedangkan untuk produksi feronikel di kisaran 27.000 TNi.

Di sisi lain, Sekretaris Perusahaan PT Merdeka Copper Gold Tbk. Adi Adriansyah Sjoekri mengatakan bahwa perseroan mempertahankan target produksi emas yang sudah ditetapkan pada awal tahun ini kendati harga emas semakin berkilau.

“Target produksi saat ini masih kami pertahankan sesuai target di awal tahun, yaitu 165.000 - 185.000 ounces emas,” ujar Adi kepada Bisnis, Selasa (30/6/2020).

Namun demikian, target tersebut sesungguhnya lebih rendah dibandingkan dengan target produksi tahun lalu sebesar 180.000 - 200.000 ounces (oz).

Adapun, pada kuartal pertama tahun ini, emiten berkode saham MDKA itu berhasil memproduksi emas sebanyak 54.151 oz dengan biaya pendukung atau all-in sustaining cost (AISC) sebesar US$658 per oz.

Sementara itu, untuk tembaga MDKA berhasil memproduksi sebanyak 1.785 ton dengan AISC sebesar US$4,1 per pon.

Adi mengaku dengan tren kenaikan harga emas saat ini yang telah menyentuh level US$1.800 per troy ounce dapat memberikan kontribusi positif terhadap kinerja perseroan ke depannya.

Namun, untuk melindungi dari fluktuasi harga emas di tengah sentimen penyebaran Covid-19 yang membuat pasar cukup bergejolak perseroan juga melakukan aksi hedging atau lindung nilai.

Seperti contohnya, pada kuartal I/2020 sebanyak 22.848 oz lindung nilai emas dengan harga strike US$1.354 per oz ditutup pada harga US$1.605 per oz sehingga itu menghasilkan kerugian bersih pada lindung nilai untuk kuartal I/2020 senilai US$5,7 juta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

aneka tambang vale indonesia tbk emiten logam mdka
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top