Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dituding Bentjok Rugikan Jiwasraya, Begini Kinerja Saham Grup Bakrie 

8 dari 10 saham emiten grup Bakrie dibanderol gocap alias Rp50.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 25 Juni 2020  |  16:35 WIB
(Dari kiri) Chairman Grup Bakrie Nirwan Dermawan Bakrie, Presiden Direktur PT Ithaca Resources Agoes Projosasmito, Direktur Utama dan CEO PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) Anindya Bakrie, dan CEO PT Bakrie Capital Indonesia Adika Nuraga Bakrie berbincang di sela penandatanganan nota kesepahaman (MoU) fasilitas produksi batubara ke metanol senilai Rp30 triliun yang dilakukan secara virtual di Jakarta dan Amerika Serikat, Kamis (14/5/2020) malam. - Anara Foto
(Dari kiri) Chairman Grup Bakrie Nirwan Dermawan Bakrie, Presiden Direktur PT Ithaca Resources Agoes Projosasmito, Direktur Utama dan CEO PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) Anindya Bakrie, dan CEO PT Bakrie Capital Indonesia Adika Nuraga Bakrie berbincang di sela penandatanganan nota kesepahaman (MoU) fasilitas produksi batubara ke metanol senilai Rp30 triliun yang dilakukan secara virtual di Jakarta dan Amerika Serikat, Kamis (14/5/2020) malam. - Anara Foto

Bisnis.com, JAKARTA - Terdakwa kasus korupsi PT Asuransi Jiwasraya Benny Tjokrosaputro 'bernyanyi' soal andil emiten-emiten milik Bakrie Group dalam kasus rasuah perusahaan asuransi tersebut.

Benny menyebut Jiwasraya pernah membeli sejumlah saham emiten-emiten yang dimiliki grup Bakrie. Performa saham yang merosot membuat nilai aset pun turun sehingga Jiwasraya menanggung kerugian dari penurunan nilai aset saham.

Menurut Benny, dirinya mengetahui Jiwasraya pernah menempatkan dana dengan membeli saham emiten grup bakrie saat diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan. Dia mengaku ditunjukkan data portofolio Jiwasraya yang mana perusahaan asuransi pelat merah itu memiliki saham emiten-emiten grup Bakrie.

Dia tidak merinci emiten mana grup Bakrie mana yang dimaksud. Yang jelas, ada lebih dari 10 emiten grup Bakrie di Bursa Efek Indonesia, mulai dari perusahaan tambang hingga telekomunikasi.

"Paling besar di 2006 saat mereka beli saham-sahamnya Bakrie Rp4 triliun. Saat itu harga saham Bakrie sedang tinggi-tingginya, sekarang semua nilainya Rp50 [per saham], ruginya berapa" ujar Benny saat diwawancara, Rabu (24/6/2020). 

Lantas bagaimana rekam jejak kinerja saham-saham emiten Grup Bakrie di pasar modal yang dituding Bentjok merugikan negara itu?

Merujuk pada keterangan Benny, sedikitnya ada enam emiten grup Bakrie yang sudah melantai di BEI pada 2006. Keenam perusahaan itu yakni PT Bakrie and Brothers Tbk, PT Bakrie Telecom, PT Bumi Resources Tbk, PT Bakrieland Development Tbk, PT Energi Mega Persadha Tbk, dan PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk.

Untuk diketahui, konglomerasi Bakrie memiliki 10 perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, yaitu PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) yang resmi tercatat pada 1989 dan menjadi pintu anak usaha Bakrie lainnya untuk melantai di bursa.

Kemudian diikuti oleh PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk. (UNSP), PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), PT Bakrieland Development Tbk. (ELTY), PT Energi Mega Persadha Tbk. (ENRG), PT Bakrie Telecom Tbk. (BTEL), PT Darma Hanwa Tbk. (DEWA), dan PT Bumi Resources Mineral Tbk. (BRMS).

Tidak ketinggalan, anak usaha Bakrie di sektor media PT Viva Media Asia Tbk. (VIVA) dan PT Intermedia Capital Tbk. (MDIA) juga ikut meramaikan lantai bursa.

Dari data yang dihimpun Bisnis, tercatat bahwa emiten Grup Bakrie sempat diperdagangkan di indeks LQ45. Kala itu, UNSP, ENRG dan ELTY menjadi penghuni baru per Februari 2005. Namun, BNBR dan BUMI telah lebih dulu mendiami indeks tersebut.

Namun, pada Juli 2005, saham ELTY terdepak dan anak usaha Bakrie lainnya BTEL berhasil menjaga pamor Grup Bakrie dengan bergabung dalam LQ45 pada Agustus 2006.

Meski berada di urutan teratas emiten kapitalisasi terbesar, Pada 7 Oktober 2007 Otoritas BEI mensuspensi saham Grup Bakrie yaitu BNBR, BUMI, ENRG, ELTY, UNSP, dan BTEL karena rontoknya harga saham-saham itu yang menyeret turun IHSG.

Ambrolnya harga saham Grup Bakrie kala itu disebabkan oleh krisis keuangan global dan kasus gagal bayar utang konglomerasi itu.

Bahkan, Bakrie sempat meminta otoritas BEI untuk memperpanjang suspensinya agar proses rasionalisasi aset guna membayar utang yang mencapai US$1,2 miliar dapat terlaksana dengan lancar..

Adapun, saham BUMI sempat naik hingga 1.000 persen dari kisaran harga Rp800 pada 2006 ke level tertingginya Rp8.200 pada 30 Juni 2008.

Sementara itu, pada 31 Desember 2007 saham UNSP dan ENRG kompak menyentuh level tertingginya yaitu masing-masing di level Rp22.299 per saham dan Rp11.170 per saham.

Saham BTEL yang juga menjadi primadona kala itu, bertengger di level tertinggi Rp446 per saham pada 31 Oktober 2007.

Namun, masa kejayaan saham-saham Grup Bakrie kini tinggal cerita. Kini, sebagian besar emiten Grup Bakrie terjerembab di level Rp50 per saham. Dari 10 emiten, hanya ENRG dan UNSP yang diperdagangkan masing-masing pada level Rp52 dan Rp62 per saham.

Jatuh dan bangun harga saham sesungguhnya hal yang biasa terjadi di pasar modal. Investor pun dianggap harus sudah siap menerima kenyataan jika harus merugi. Pasalnya, pasar modal adalah salah satu instrumen aset berisiko.

Lalu, bagaimana kelanjutan keterlibatan saham-saham Grup Bakrie ini dengan kasus Jiwasraya? Kita tunggu saja.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Grup Bakrie Jiwasraya
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top