Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kesepakatan Dagang AS-China Berakhir, Pasar Saham Terkejut

Penasihat Perdagangan Gedung Putih Pete Navarro mengatakan Presiden Donald Trump telah memutuskan untuk mengakhiri kesepakatan perdagangan dengan China
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 23 Juni 2020  |  09:40 WIB
Presiden Trump memimpin pertemuan dengan petinggi sejumlah industri di AS, Rabu (29/4/2020) - Bloomberg / Stefani Reynolds
Presiden Trump memimpin pertemuan dengan petinggi sejumlah industri di AS, Rabu (29/4/2020) - Bloomberg / Stefani Reynolds

Bisnis.com, JAKARTA – Kontrak berjangka indeks Amerika Serikat meluncur turun bersama bursa Asia pada perdagangan pagi ini, Selasa (23/6/2020), setelah seorang pejabat pemerintah AS mengatakan bahwa kesepakatan perdagangan AS-China berakhir.

Berdasarkan data Bloomberg, kontrak berjangka indeks S&P 500 merosot 0,7 persen pukul 10.19 pagi waktu Tokyo. Sementara itu, nilai tukar yuan offshore melemah 0,4 persen terhadap dolar AS.

Kendati indeks saham acuan S&P 500 mampu ditutup menguat 0,7 persen pada perdagangan Senin (22/6/2020), indikator pergerakan bursa AS spontan terjungkir balik ke zona merah pagi ini.

Penasihat Perdagangan Gedung Putih Pete Navarro mengatakan Presiden Donald Trump telah memutuskan untuk mengakhiri kesepakatan perdagangan dengan China ketika para pejabat intelijen semakin yakin bahwa pandemi virus corona (Covid-19) berasal dari laboratorium di kota Wuhan.

“Berakhir sudah. Titik baliknya adalah mereka [China] datang pada 15 Januari untuk menandatangani perjanjian perdagangan tersebut dan itu adalah dua bulan penuh setelah mereka tahu virusnya sudah muncul,” ungkap Navarro dalam wawancara dengan Fox News pada Senin (22/6/2020) waktu setempat.

“Itu adalah waktu ketika mereka telah mengirim ratusan ribu orang ke negara ini untuk menyebarkan virus itu, dan hanya beberapa menit setelah roda pesawat itu lepas landas kita mulai mendengar tentang pandemi ini,” jelas Navarro.

Perjanjian perdagangan tersebut dimaksudkan untuk meredakan ketegangan antara dua ekonomi terbesar dunia ini setelah perang dagang selama beberapa waktu lamanya yang berakar dari tuduhan Washington bahwa China telah memanipulasi mata uangnya dan mencuri rahasia dagang AS.

“Saya pikir semua orang di dalam perimeter ini dan di sekitar negara ini kini mengerti bahwa China berbohong dan masyarakat Amerika berguguran,” tambahnya.

Navarro menambahkan bahwa pemilihan presiden (pilpres) pada November mendatang kemungkinan akan mengarah pada tiga masalah utama yakni pekerjaan, China, serta hukum dan ketertiban.

“Keputusan Presiden Trump untuk mengakhiri kesepakatan dagang yang panjang ini membuktikan bahwa ia menjalankan ketiga hal tersebut, terutama China,” tandas Navarro.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as Donald Trump perang dagang AS vs China

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top