Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tertekan Kebijakan Pemerintah, Saham Perbankan China Justru Diminati

Manajer investasi masih melihat emiten perbankan masih menarik, meski sektor ini berada di bawah tekanan pemerintah China dan suku bunga rendah.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 22 Juni 2020  |  11:20 WIB
Properti di Guangzhou, China, terlihat dari bawah Jembatan Liede di atas Sungai Mutiara./Bloomberg - Qilai Shen
Properti di Guangzhou, China, terlihat dari bawah Jembatan Liede di atas Sungai Mutiara./Bloomberg - Qilai Shen

Bisnis.com, JAKARTA – Bagi sebagian besar investor, membeli saham di sektor perbankan China sepertinya bukan pilihan yang tepat dan menguntungkan di tahun ini.

Di bawah tekanan dari pemerintah untuk merelakan potensi laba, suku bunga yang sangat rendah, serta ancaman kredit macet, sejumlah emiten perbankan terbesar di China mencatat penurunan saham hingga 13 persen sepanjang tahun ini.

Saham perbankan diperdagangkan dengan rasio price to book value (PBV) paling tinggi 0,7 kali, mendekati level terendah dalam beberapa tahun terakhir sejak sebelum krisis keuangan global.

Akan tetapi, manajer dana investasi yang berbasis di Shanghai menilai saham perbankan China saat ini begitu menarik sehingga saham tersebut menjadi salah satu bagian terbesar dari portofolionya.

Pendiri dan manajer investasi di Shanghai Minority Asset Management Co., Zhou Liang, mengatakan harga saham perbankan saat ini sudah mencerminkan skenario terburuk dari penurunan laba dan kredit macet.

"Sudah terlalu banyak pesimisme di pasar. Kami percaya banyak orang salah paham terhadap saham perbankan," kata Zhou, yang perusahaannya mengelola aset senilai sekitar 10 miliar yuan (US$1,4 miliar), seperti dilansir Bloomberg.

Zhou mengatakan kekhawatiran atas kualitas aset, kredit macet, keberlanjutan laba, dan dampak pandemi telah dilewati.

"Keempat bank besar dan bank saham gabungan besar tidak memiliki masalah dalam hal kualitas aset, karena hanya ada sedikit aset negatif. Return saham relatif tinggi, sedangkan biaya operasional bank di China cenderung lebih rendah dibanding bank di AS." kata Zhou melalui telepon.

People Bank of China (PBOC) menyatakan pada Senin (22/6) bahwa suku bunga dasar pinjaman China, yang diputuskan oleh 18 bank, tidak berubah pada bulan Juni, setelah terus menurun sejak diperkenalkan pada Agustus tahun lalu.

China saat ini bergantung pada bank-bank besar untuk membantu meningkatkan perekonomian yang menghadapi resesi terburuk dalam empat dekade terakhir. Pemerintah meminta mereka untuk menjaga pertumbuhan laba di bawah 10 persen.

Selain itu, pemerintah mendorong industri keuangan untuk merelakan potensi laba senilai 1,5 triliun yuan tahun ini dengan menawarkan suku bunga pinjaman yang lebih rendah, memotong biaya, menunda pembayaran pinjaman dan memberikan lebih banyak pinjaman tanpa jaminan kepada usaha kecil.

"Dalam beberapa tahun terakhir, lingkungan kebijakan bank dan real estat tidak terlalu ramah, tetapi ini tidak menghalangi Anda untuk untuk mendapatkan keuntungan," kata Zhou.

Zhou andalan dana telah membuat akumulasi pengembalian lebih dari 340 persen sejak didirikan pada tahun 2013. Sejak 2016, dia telah all-in pada saham blue chip yang terdaftar di daratan termasuk bank, pengembang properti, pembuat baijiu, asuransi dan beberapa produsen terkemuka. Dana tersebut telah kehilangan 5,7 persen dalam nilai aset bersih pada tahun 2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan china rekomendasi saham

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top