Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Saham Emiten Rokok Masih Bisa Mengepul Tahun Ini?

Daya beli masyarakat yang menurun dan pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar membuat banyak konsumen akhirnya sulit menjangkau produk rokok pada tahun ini.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 21 Juni 2020  |  18:59 WIB
Penjual melayani pembeli rokok di Jakarta, Rabu (19/9/2018). - ANTARA/Muhammad Adimaja
Penjual melayani pembeli rokok di Jakarta, Rabu (19/9/2018). - ANTARA/Muhammad Adimaja

Bisnis.com, JAKARTA – Kendati pada kuartal pertama emiten rokok besar PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) dan PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) masih bisa mencatatkan laba bersih, banyak investor mulai khawatir mengenai prospek saham emiten rokok untuk kinerja satu tahun ini.

Apalagi dengan meningkatnya cukai rokok, daya beli masyarakat yang menurun dan pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar membuat banyak konsumen akhirnya sulit menjangkau produk rokok pada tahun ini.

Mirae Asset Sekuritas berpendapat pembatasan sosial adalah masalah utama produsen rokok dimana distribusi rokok utamanya bergantung pada saluran tradisional seperti warung, grosir dan pedagang kaki lima.

Namun, analis Mirae Asset Sekuritas Christine Natasya berpendapat bahwa meskipun pandemi Covid-19 mulai berlangsung sejak pertengahan Maret tahun ini, volume penjualan rokok nyatanya hanya merosot 2,2 persen secara tahunan pada kuartal pertama tahun ini.

Padahal, perseroan sudah menaikkan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) menyusul kebijakan kenaikan biaya cukai rokok oleh pemerintah.

Sementara, volume penjualan rokok dengan merek andalan cukup tangguh meskipun sedikit menurun secara kuartalan pada paruh pertama tahun ini.

“Kami proyeksikan volume penjualan rokok keseluruhan tetap berada di zona negatif selama sisa tahun berjalan. Karenanya, kami mempertahankan perkiraan volume penjualan perusahaan rokok untuk tahun 2020 yakni 76 miliar batang rokok untuk GGRM dan 90 miliar batang rokok untuk HMSP,” tulis Christine dikutip dari risetnya baru-baru ini.

Selain itu, titik terendah penjualan rokok belum terlihat jatuh signifikan pada kuartal kedua tahun ini. Sama seperti tahun sebelumnya, beberapa perusahaan rokok sudah memprediksi akan mengalami penurunan penjualan selama bulan Ramadan.

Akan tetapi, kesadaran orang untuk mulai hidup sehat dan menyingkirkan rokok kemungkinan akan mempengaruhi volume penjualan rokok. Sehingga, hal ini kemungkinan besar berpengaruh pada penurunan penjualan dan akhirnya berimbas pada merosotnya harga saham emiten rokok selama kuartal kedua ini.

Sebagai kesimpulan, Christine meningkatkan rekomendasi netral dari underweight untuk emiten sektor rokok karena sekuritas percaya bahwa pemulihan ekonomi yang dimulai pada bulan ini akan menjadi katalis positif untuk sektor rokok.

“Kami meningkatkan rekomendasi kami untuk sektor rokok ke netral (dari underweight) dengan GGRM sebagai top pick kami,” sambungnya.

Adapun, sekuritas berharap, pemerintah kembali akan mengumumkan aturan kenaikan cukai untuk tahun 2021 pada kuartal III atau IV 2020.

Namun, dengan panjangnya masa pembatasan sosial dan harapan pemerintah untuk menstabilkan kembali aktivitas ekonomi, sekuritas berharap kenaikan cukai pada tahun depan akan lebih rendah dari tahun ini sehingga hal ini turut menjadi sentimen positif untuk sektor tersebut.

Untuk diketahui, HM Sampoerna melaporkan pertumbuhan laba bersih sebesar 1,1 persen secara tahunan menjadi Rp3,32 triliun, yang disebabkan oleh usaha perseroan menekan beban biaya operasional pada kuartal pertama tahun 2020. 

Sementara itu, pendapatan perseroan mengalami koreksi tipis 0,5 persen year-on-year menjadi Rp23,7 triliun dikarenakan penurunan volume penjualan rokok imbas dari kenaikan harga jual eceran (HJE).

Pada kuartal pertama tahun 2020, pangsa pasar dan volume penjualan rokok perseroan mengalami penurunan masing-masing 30,3 persen secara tahunan dan 20,4 miliar batang rokok dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Hal ini terutama disebabkan oleh penurunan penjualan rokok merek Dji Sam Soe Magnum Mild yang mencerminkan bahwa perokok dewasa lebih memilih untuk membeli produk rokok dengan harga sangat murah pada periode awal tahun ini.

Penurunan angka penjualan rokok merek Dji Sam Soe nyatanya diimbangi sebagian oleh peningkatan pangsa pasar rokok merek Sampoerna A yang menunjukkan bahwa produk rokok kelas menengah dan rendah kini cukup bersaing.

Di lain pihak, Gudang Garam berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih 3,88 persen secara tahunan menjadi Rp2,45 triliun pada triwulan pertama tahun ini.

Pertumbuhan laba ini disumbang oleh pendapatan perseroan sebesar Rp27,26 triliun, naik 4,06 persen year-on-year dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Adapun, beban pokok penjualan dan beban usaha perseroan secara bersamaan meningkat masing-masing 4,89 persen yoy menjadi Rp22,32 triliun dan 3,93 persen yoy menjadi Rp1,7 triliun.

Namun, perseroan berhasil menambah pundi-pundi uangnya dari pendapatan lainnya yang naik 18,83 persen secara tahunan menjadi Rp77,44 miliar, dan penghasilan dari laba kurs sebesar Rp26,18 miliar pada kuartal pertama tahun 2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rekomendasi saham hm sampoerna gudang garam
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top