Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

PSBB Rampung, Ini Prospek Sektor yang Mati Suri Selama Pandemi

Selesainya PSBB akan memberikan dampak yang positif ke pasar modal, apalagi selama tiga bulan belakangan kondisi market terimbas pandemi Covid-19.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 30 Mei 2020  |  14:11 WIB
Pengunjung memotret layar monitor perdagangan Indeks Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (27/7/2020). Bisnis - Abdurachman
Pengunjung memotret layar monitor perdagangan Indeks Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (27/7/2020). Bisnis - Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah sektor diperkirakan akan mulai bangkit seiring pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Indonesia yang rencananya dimulai pada Juni mendatang.

Head of Market Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menilai selesainya PSBB akan memberikan dampak yang positif ke pasar modal, apalagi selama tiga bulan belakangan kondisi market terimbas pandemi Covid-19.

Dia menyebut antusiasme pelaku pasar mengenai kembali berjalannya roda ekonomi domestik sudah terlihat di penghujung Mei. Hal itu terlihat dari reli Indeks Harga Saham Gabungan sepanjang pekan ini.

“Minggu ini IHSG meningkat cukup signifikan, walaupun belum wah tapi ya sudah ada geliat, lumayan naik ke 4.700-an dalam seminggu,” tuturnya kepada Bisnis, Jumat (29/5/2020)

Pada perdagangan Jumat (29/5/2020) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil melanjutkan reli dan mantap menguat di atas level 4.700 justru ketika pasar saham global terbebani kekhawatiran tensi Amerika Serikat-China.

Pergerakan IHSG ditutup di level 4.753,61 dengan penguatan 0,79 persen atau 37,43 poin. Sepanjang perdagangan hari ini, indeks bergerak fluktuatif dalam kisaran 4.704,79–4.755,96.

Jika kondisi new normal ini dapat benar-benar membuat ekonomi kembali berputar, diharapkan dapat menjadi katalis positif untuk beberapa sektor yang ‘mati suri’ selama beberapa bulan terakhir.

Adapun sektor yang diproyeksikan akan mulai bangkit salah satunya adalah ritel dan jasa, seiring dengan mall dan pusat perbelanjaan yang mulai beroperasi kembali. Juga lokasi-lokasi pariwisata yang akan mulai boleh dikunjungi.

“Masyarakat yang sudah dikarantina tiga bulan pasti akan semangat untuk belanja,” imbuhnya.

Sektor lain yang akan bergeliat adalah finansial, khususnya perbankan. Pasalnya, untuk menggerakan roda ekonomi pasti dibutuhkan modal dan pembiayaan, sehingga peran emiten di sektor ini akan sangat dominan.

Selain itu, sektor otomotif juga diprediksi dapat kembali bernafas karena masyarakat dinilai akan cukup tertarik membeli kendaraan baru untuk menghindari risiko berpergian dengan transportasi publik.

Kemudian, Wawan menyebut sektor telekomunikasi diperkirakan akan melanjutkan kinerja baiknya. Pasalnya, meski aktivitas luar ruangan dan perkantoran telah dimulai kembali, masyarakat sudah mulai terbiasa untuk berkomunikasi secara virtual.

“Kebiasaan untuk video conference dan sebagainya masih akan lebih disukai daripada tatap muka langsung, terutama untuk bisnis. Jadi kebutuhan akan data ini masih akan tinggi,” tutur Wawan.

Meskipun berharap pada new normal, Wawan menilai investor masih akan menimbang banyak aspek, apalagi masih banyak risiko yang membayangi kondisi yang disebut sebagai new normal tersebut.

Salah satu yang akan dicermati adalah bagaimana perkembangan jumlah kasus terinfeksi Covid-19. Sebab jika pasien terus bertambah bukan tak mungkin PSBB akan kembal diberlakukan dan ekonomi lumpuh lagi.

"Kalau itu terjadi koreksi bisa berlanjut karena ternyata untuk menjalankan new normal tidak semudah itu. Hal inilah yang dikhawatirkan investor,” tukas Wawan.

Analis MNC Sekuritas Victoria Venny mengatakan jelang akhir Mei ini market bergerak reli seiring dengan penurunan kasus covid di China, euforia reopening ekonomi di beberapa negara, serta penemuan beberapa vaksin yang diklaim beberapa negara.

Menurutnya, tren penguatan ini membawa angina segar setelah selama beberapa bulan belakangan, khususnya sejak pertengahan Maret, pasar tertekan akibat timbulnya kehawatiran pelaku pasar akan dampak negatif yang timbul dari pembatasan sosial berskala besar (PSSB).

Sayangnya, Venny menilai hal tersebut hanya bersifat sementara. Pasalnya, perkembangan kondisi global maupun domestik, termasuk pembukaan kembali ekonomi, dinilai belum cukup kuat untuk menopang indeks agar dapat kembali melanjutkan relinya.

Dari global, ancaman second wave Covid-19 patut diwaspadai, apalagi vaksin juga masih membutuhkan waktu uji coba yang cukup panjang. Selain itu risiko geopolitik seperti ketegangan antara China-AS dan India-China juga menjadi perhatian.

“Dari Indonesia sendiri masih terjadi kenaikan pasien Covid. Lalu imbas besar pada ekonomii Indonesia, dampak negatif dari potensi gelombang PHK, dan potensi resesi,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (29/5/2020)

Meskipun demikian, seiring dengan mulai diberlakukannya pelonggaran PSBB dan mulai bergeliatnya aktivitas ekonomi di dalam negeri, Venny menyebut akan ada sejumlah sektor akan diuntungkan dalam jangka pendek.

Salah satunya adalah sektor properti dan ritel karena mall mulai beroperasi. Adapun emiten yang layak dicermati antara lain SMRA, BSDE, ACES, MAPA, dan MAPI.

Sementara sejumlah sektor lain yang memang moncer di tengah pandemi seperti sektor telekomunikasi dan kesehatan juga diproyeksikan akan melanjutkan penguatannya. Beberapa emiten kedua sektor tersebut yang menarik seperti TLKM, EXCL, TOWR, KLBF, dan SIDO.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Indeks BEI rekomendasi saham
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top