Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Efek Akuisisi Ophir Terasa, Rugi Bersih Medco Energi (MEDC) Menciut

Emiten berkode saham MEDC itu berhasil memperbaiki profitabilitasnya dengan mencatatkan penurunan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas pemilik induk sebesar 46,69 persen menjadi US$27,32 juta dari US$51,30 juta pada 2018.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 21 Mei 2020  |  12:42 WIB
Akticitas pengemoran migas PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) di Laut Natuna Selatan. - MedoEnergi.com
Akticitas pengemoran migas PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) di Laut Natuna Selatan. - MedoEnergi.com

Bisnis.com, JAKARTA - Rugi bersih emiten tambang minyak dan gas, PT Medco Energi internasional Tbk., berhasil menciut menjadi US$27,34 juta pada 2019, didukung oleh akuisisi Ophir Energy Plc.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, emiten berkode saham MEDC itu berhasil memperbaiki profitabilitasnya dengan mencatatkan penurunan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas pemilik induk sebesar 46,69 persen menjadi US$27,32 juta dari US$51,30 juta pada 2018.

Selain itu, perseroan juga mencatatkan EBITDA sebesar US$660 juta.

CEO Medco Energi Internasional Robert Lorato mengatakan bahwa kinerja tahun lalu didominasi oleh keberhasilan akuisisi Ophir Energy Plc. Dia mengatakan, akuisisi Ophir itu langsung menghasilkan EBITDA bagi perseroan sebesar US$131 juta, hanya dalam periode tujuh bulan pasca-akuisisi di Mei 2019.

EBITDA tersebut pun telah dikurangi biaya akuisisi US$35 juta dan biaya integrasi US$11 juta.

“Proforma EBITDA Ophir adalah US$238 juta. Dengan demikian, sinergi tahunan yang berulang dari akuisisi itu akan berkontribusi bagi perseroan di atas US$50 juta,” tulis Lorato dalam keterangan resminya, Kamis (21/5/2020).

Selain itu, Loreto menjelaskan bahwa menciutnya rugi bersih perseroan berhasil didukung oleh profit dari segmen minyak, gas, dan listrik walaupun dibatasi oleh kerugian dari PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) yang membengkak menjadi US$49 juta.

Di sisi top line, perseroan berhasil membukukan kenaikan sebesar 18 persen secara year on year menjadi US$1,43 miliar dibandingkan dengan perolehan 2018 sebesar US$1,21 miliar.

Adapun, perolehan tersebut terdiri atas penjualan minyak dan gas bumi sebesar *US$1,16 miliar, penjualan tenaga listrik dan jasa terkait sebesar US$274,79 juta, dan pendapatan jasa sebesar US$2,3 juta.

Kendati demikian, beban pokok penjualan biaya langsung lainnya membengkak menjadi US$846,5 juta, sehingga laba kotor perseroan menyusut US$591,73 juta, lebih rendah 6,39 persen dari capaian tahun sebelumnya US$632,17 juta.

Lebih lanjut, Loreto mengatakan, perseroan telah menyelesaikan penjualan beberapa aset non-inti, termasuk aset di  Tunisia,Meksiko Blok 5, dan telah memonetisasi pinjaman pemegang saham AMNT sehingga dapat meringankan beban bunga perseroan pada 2019 dan 2020.

Dia pun menjamin, likuiditas perseroan tetap kuat dan utang jatuh tempo seperti obligasi rupiah pada 2020 dan 2021 sudah berada dalam cadangan escrow.

Adapun, total aset perseroan pada 2019 sebesar US$6 miliar dengan kas setara kas berada di posisi US$456 juta. Sementara itu, total liabilitas perseroan pada 2019 sebesar US$4,65 miliar.

Presiden Direktur Medco Energi Internasional Hilmi Panigoro mengatakan bahwa pada tahun lalu perusahaan telah meningkatkan kekuatannya setelah selesainya Blok A, pembangunan Aceh, dan akuisisi Ophir Energy sehingga menempatkan MEDC sebagai perusahaan energi dan sumber daya alam Asia Tenggara terkemuka.

“Namun, dunia sekarang menghadapi masa yang sangat menantang, dan Medco akan melakukan apa yang selalu dilakukannya, yaitu beradaptasi dengan lingkungan yang berubah dan terus menghasilkan energi yang aman dan terjangkau untuk negara-negara tempat kita beroperasi,” jelas Hilmi.

Untuk menghadapi pandemi Covid-19 dan anjloknya harga minyak yang tidak terduga, perseroan telah menyiapkan strategi protokol khusus untuk menghadapi hal tersebut.

Pada medio Maret tahun ini, perseroan telah memangkas belanja modal tahun ini yang semula sebesar US$340 juta menjadi hanya sebesar US$240 juta karena prospek pelemahan permintaan minyak dalam beberapa kuartal ke depan.

Dari belanja modal yang baru itu sebesar US$180 juta dialokasikan untuk segmen minyak dan gas, sedangkan US$60 juta untuk segmen listrik. Lebih lanjut, dari total belanja modal di segmen minyak dan gas, sebanyak US$117 juta untuk proyek PSC, US$21 juta untuk proyek non-PSC, dan US$42 juta untuk biaya eksplorasi.

MEDC juga memangkas target produksi yang semula sebesar 110 ribu barel oil equivalent per day (boepd), menjadi di kisaran 100-105 ribu boepd, yang terdiri atas produksi minyak di kisaran 33-38 ribu boepd dan produksi gas di kisaran 67 ribu boepd.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

migas medco medco energi internasional Kinerja Emiten
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top