Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

AS-China Memanas, Wall Street Malah Bangkit dan Naik Tajam

Indeks S&P 500 ditutup naik tajam 1,15 persen atau 32,50 poin ke level 2.852,50. Padahal, indeks saham acuan ini sempat terguling ke bawah level 2.800 di tengah ketegangan AS-China.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 15 Mei 2020  |  05:49 WIB
Indeks S&P 500 tergelincir dari level tertingginya dalam 7 pekan. / Reuters
Indeks S&P 500 tergelincir dari level tertingginya dalam 7 pekan. / Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Saham perbankan berhasil mendongkrak tiga indeks saham utama di Bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) bangkit dari pelemahannya dan ditutup di zona hijau pada perdagangan Kamis (14/5/2020).

Berdasarkan data Bloomberg, indeks S&P 500 ditutup naik tajam 1,15 persen atau 32,50 poin ke level 2.852,50. Padahal, indeks S&P 500 sempat terguling ke bawah level 2.800, yang telah mendukungnya selama sebulan terakhir, di tengah memanasnya tensi AS-China.

Sementara itu, indeks Nasdaq Composite menguat 0,91 persen atau 80,56 poin ke posisi 8.943,72 dan indeks Dow Jones Industrial Average berakhir melonjak 1,62 persen atau 377,37 poin ke level 23.625,34.

Dalam sesi perdagangan yang sangat fluktuatif, S&P 500 terdorong menguat setelah saham Wells Fargo, JPMorgan, dan Bank of America melonjak setidaknya 4 persen.

Saham energi pun terangkat seiring dengan lonjakan harga minyak mentah. Kendati menguat, kedua industri tersebut masih berkinerja terburuk dengan jatuh lebih dari 30 persen sepanjang tahun ini.

Di sisi lain, lonjakan saham American Express dan Cisco Systems berhasil membawa Dow Jones Industrial Average mengungguli penguatan indeks saham utama.

Koreksi saham sebelumnya didorong oleh data klaim pengangguran AS yang lebih buruk dari perkiraan. Menurut data Departemen Tenaga Kerja AS yang dirilis Kamis (14/5), klaim pengangguran awal mencapai 2,98 juta orang untuk pekan yang berakhir pada 9 Mei, sedikit lebih rendah dari pekan sebelumnya yang mencapai 3,18 juta orang.

Meski laju pengajuan telah mereda selama enam pekan berturut-turut, jumlah klaim gagal menurun sebanyak yang diproyeksikan oleh para ekonom, dengan perkiraan median sebanyak 2,5 juta orang.

Selain itu, dalam wawancara dengan Fox Business Network, Presiden Donald Trump mengatakan dia tidak ingin berbicara dengan Presiden China Xi Jinping untuk saat ini.

Trump juga mengatakan sedang memeriksa perusahaan-perusahaan China yang berdagang di NYSE dan bursa Nasdaq tetapi tidak mengikuti aturan akuntansi AS.

Meski pasar masih berhati-hati, sebagian pedagang mungkin melakukan ambil untung setelah aksi jual menempatkan S&P 500 pada jalur pekan terburuknya sejak 20 Maret.

“Kita telah kembali mendengar kabar buruk dengan klaim pengangguran hari ini,” ujar Matt Maley, kepala strategi pasar di Miller Tabak.

“Dalam dua bulan terakhir, kita bangkit kembali setiap kali mengalami kemunduran seperti ini dan pasar tidak ingin menjadi terlalu agresif di sisi penjualan,” tambahnya, dikutip dari Bloomberg.

Berbanding terbalik dengan Wall Street, indeks Stoxx Europe 600 anjlok sekitar 2,2 persen dan indeks MSCI Asia Pacific melemah 1,5 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as wall street
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top