Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Transaksi Sepi, Bagaimana Strategi Kelola Portofolio Saham Jelang Lebaran?

Diversifikasi saham ke beberapa sektor menjadi kunci pengelolaan portofolio jelang Lebaran serta arah pasar yang masih sulit diprediksi di tengah penyebaran pandemi Covid-19
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 12 Mei 2020  |  13:43 WIB
Transaksi Sepi, Bagaimana Strategi Kelola Portofolio Saham Jelang Lebaran?
Pekerja mengambil gambar pergerakan Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan ponselnya di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (11/5/2020). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pergerakan IHSG pada Senin (11/5/2020) berakhir di level 4.639,1 dengan penguatan sekitar 0,91 persen atau 41,67 poin dari level penutupan perdagangan sebelumnya. ANTARA FOTO - Muhammad Adimaja
Bagikan

Bisnis.com,JAKARTA — Transaksi saham di Bursa Efek Indonesia diperkirakan akan sepi menjelang Hari Raya Idulfitri yang akan jatuh pada pekan. Investor disarankan untuk merancang strategi pengelolaan dalam menghadapi tren pergerakan pasar yang sulit diprediksi.

Transaksi saham di pasar reguler, tunai, dan negosiasi tengah lesu sepanjang periode berjalan Mei 2020. Rerata transaksi yang terjadi dalam lima sesi perdagangan terakhir hanya Rp5,78 triliun.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) masih bergerak fluktuatif. Sampai dengan sesi pertama perdagangan Selasa (12/5/2020), indeks masih terkoreksi 27,27 persen secara year to date (ytd).

Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Wijoyo Prasetio mengatakan memang menjelang Lebaran transaksi akan cenderung sepi. Apalagi, saat ini pergerakan pasar sangat sulit diperkirakan arahnya karena sentimen Covid-19 dan stimulus yang digelontorkan oleh bank sentral di seluruh dunia.

Di tengah kondisi itu, Frankie menyebut cara yang tepat untuk mengelola portofolio saham yakni dengan melakukan diversifikasi ke beberapa sektor dan emiten dengan fundamental yang baik.

“Jangan lupa juga investor harus menyiapkan cash di portofolio investasinya untuk dibelanjakan ketika market menawarkan diskon yang lebih besar untuk saham-saham tersebut,” jelasnya kepada Bisnis, Selasa (12/5/2020).

Lebih lanjut, dia mengatakan investor boleh mengalokasikan dananya sebesar 40 persen hingga 50 persen di saham blue chip. Selanjutnya, 30 persen dapat dialokasikan kepada saham second liner yang menawarkan potensi return lebih tinggi dan tentunya dengan risiko lebih tinggi.

Kemudian sebanyak 20 persen hingga 30 persen dalam bentuk tunai sebagai cadangan membeli saham yang diinginkan saat harga sedang turun.

Secara terpisah, Head of Research Mirae Asset Sekuritas Hariyanto Wijaya mengatakan telah memprediksi IHSG akan cenderung melemah pada Mei 2020. Perlambatan ekonomi akibat penyebaran Covid-19 menurutnya masih akan menjadi penekan laju indeks.

Proyeksi melambatnya perekonomian Indonesia juga membuat Mirae Asset Sekuritas memangkas target IHSG akhir 2020. Indeks diperkirakan hanya mampu mendarat di level 5.180 atau jauh dari prediksi sebelumnya 6.500.

Hariyanto memprediksi aksi jual asing masih berlanjut sepanjang Mei 2020. Salah satu pemicunya Purchasing Manager’s Index manufaktur Indonesia yang kemungkinan juga masih terkontraksi. 

“Maka top picks saya adalah saham defensif di sektor konsumer dan rumah sakit,” jelasnya saat dihubungi Bisnis, Selasa (12/5/2020).

Adapun, Mirae Asset Sekuritas menjadikan saham INDF, ICBP, UNVR, MYOR, KLBF, GGRM, SIDO, dan MIKA sebagai pilihan utama.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG rekomendasi saham
Editor : Rivki Maulana
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top