Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Transaksi Broker April 2020 Capai Rp287 Triliun, Turun 13,5 Persen

Transaksi broker sepanjang April 2020 hanya mencapai Rp287,12 triliun. Jumlah tersebut menyusut 13,55 persen dibandingkan transaksi sepanjang Maret yang mencapai Rp332,11 triliun.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 04 Mei 2020  |  20:40 WIB
Pengunjung melintasi layar monitor perdagangan Indeks Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (20/4/2020). Bisnis - Abdurachman
Pengunjung melintasi layar monitor perdagangan Indeks Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (20/4/2020). Bisnis - Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA - Setelah sempat meningkat pada Maret lalu, transaksi broker sepanjang April 2020 kembali menurun dibandingkan bulan sebelumnya. Pandemi dinilai masih menjadi faktor penekan utama.

Berdasarkan data Bloomberg, transaksi broker sepanjang April 2020 hanya mencapai Rp287,12 triliun. Jumlah tersebut menyusut 13,55 persen dibandingkan transaksi sepanjang Maret yang mencapai Rp332,11 triliun.

Sementara jika dibandingkan periode yang sama dengan tahun sebelumnya atau April 2019 yang mencapai Rp460,42 triliun, angka transaksi anjlok hingga 37,63 persen.

Di sisi lain, pada bulan yang sama kinerja IHSG cenderung membaik dengan penguatan 5,59 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) Octavianus Budiyanto mengatakan kendati indeks menunjukkan kinerja positif tapi masih banyak faktor yang membuat investor enggan bertransaksi, utamanya adalah pandemi Covid-19 yang masih belum usai.

Pria yang juga menjabat sebagai Direktur Utama Kresna Sekuritas ini mengatakan meski beragam upaya telah dilakukan pemerintah dan bank sentral dunia untuk menjaga likuiditas, tapi tingkat kekhawatiran akan situasi yang muncul dari pandemi membuat investor masih menahan diri.

“Investor akan melihat saja, pandeminya melandai atau naik. Kita nggak tahu kapan selesai, beberapa daerah saja baru mulai PSBB [Pembatasan Sosial Berskala Besar] kan,” ujarnya kepada Bisnis.com, Senin (4/5/2020).

Menurutnya, jika nanti pandemi mulai mereda tentu hasilnya tidak akan instan karena akan butuh waktu untuk kegiatan ekonomi bergulir kembali menuju ritme normal seperti tahun-tahun sebelumnya.

Senada, Direktur Sinarmas Sekuritas Fendi Sutanto mengatakan menyusutnya jumlah transaksi memang terpengaruh dari pandemi Covid-19 yang saat ini masih berkembang, terutama dari jumlah dana yang diinvestasikan.

Menurutnya nasabah lebih memilih aset safe haven dan masih menunggu untuk kembali masuk pasar modal. Namun, dari sisi jumlah nasabah dia mengakui tidak terjadi penurunan yang signifikan dan malah ada penambahan nasabah baru.

“Karena melihat kesempatan buat medium ke long term masih sangat baik,” imbuhnya.

Head of Research MNC Sekuritas Thendra Crisnanda menilai masih wait and see-nya pelaku pasar terhadap perkembangan kasus Corona yang belum menunjukkan titik terang terhadap vaksin.

Hal ini, tambahnya, juga tambah diperparah dengan dampak negatif oil price war yang membuat harga minyak diperdagangan negatif hingga –US$30 per barrel untuk kontrak Mei 2020.

Sementara dari pasar domestik sendiri, investor juga sedang meriviu rilis kinerja Q1/2020 yang kebanyakan jauh lebih rendah dibandingkan ekspektasi.

Lebih lanjut, Thendra menyebut tertekannya IHSG masih akan berlanjut pada Mei. Dia menilai bulan ini IHSG berada pada crossroad, yang akan jadi penentuan untuk ke depan market akan melanjutkan penurunan yang dalam atau terjadi technical rebound.

“Kuncinya ada perkembangan pengembangan vaksin secara massal dan penarikan lockdown,” kata Thendra.

Dia merekomendasikan investor untuk dapat melakukan pembelian secara bertahap pada saham berfundamental baik terutama di sektor telekomunikasi, barang konsumsi, dan perbankan.

Sementara itu, broker dengan aktivitas transaksi tertinggi pada April 2020 kini ditempati oleh Mirae Asset Sekuritas dengan total transaksi Rp22,04 triliun, yang terdiri atas Rp11,45 triliun transaksi beli dan Rp10,58 triliun transaksi jual.

Sepanjang periode tersebut, Mirae Asset Sekuritas paling banyak mentraksaksikan saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dengan nailai Rp3,42 triliun. Diikuti oleh saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) senilai Rp1,57 triliun dan PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk. (BTPS) senilaiRp879,24 miliar.

Mengekor Mirae, Maybank Kim Eng Securities ada di posisi dua sekuritas dengan aktivitas tertinggi dengan nilai transaksi Rp18,76 triliun, sedangkan Mandiri Sekuritas ada di posisi ketiga dengan nilai transaksi Rp17,18 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

broker sekuritas transaksi saham
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top