Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Investor Cermati Kinerja Keuangan, Bursa Asia Diprediksi Menguat Moderat

Bursa berjangka naik moderat di Jepang, Hong Kong, dan Australia. Kontrak S&P 500 sedikit mengalami perubahan setelah pasar saham Amerika Serikat (AS) melonjak ke level tertinggi dalam satu bulan terakhir.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 15 April 2020  |  07:32 WIB
Seorang pejalan kaki berjalan melewati papan ticker elektronik yang menampilkan angka harga saham di luar kompleks Exchange Square di Hong Kong. -  Justin Chin / Bloomberg
Seorang pejalan kaki berjalan melewati papan ticker elektronik yang menampilkan angka harga saham di luar kompleks Exchange Square di Hong Kong. - Justin Chin / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Bursa saham Asia diperkirakan akan memulai perdagangan dengan moderat sejalan dengan investor yang mulai mencermati hasil kinerja keuangan sebagai bukti dampak pandemi COVID-19.

Dikutip melalui Bloomberg, Rabu (15/4/2020), bursa berjangka naik moderat di Jepang, Hong Kong, dan Australia. Kontrak S&P 500 sedikit mengalami perubahan setelah pasar saham Amerika Serikat (AS) melonjak ke level tertinggi dalam satu bulan terakhir.

Bloomberg melaporkan indeks Nasdaq 100 terdorong oleh saham perusahaan teknologi besar yang bergerak dengan penguatan 50 poin hingga 200 poin dalam satu hari. Sementara itu, saham Johnson & Johnson melonjak setelah membukukan penjualan yang lebih kuat dan meningkatkan dividen kuartalannya.

Sebaliknya, saham JPMorgan Chase & Co. dan Wells Fargo & Co. merosot. Kondisi itu akibat laba yang tergelincir.

Musim laporan kinerja keuangan disebut harus mampu memberikan gambaran seberapa buruk imbas penyebaran COVID-19 terhadap perusahaan global. Apalagi, International Monetary Fund (IMF) mengatakan “Great Lockdown” akan menjadi resesi paling dalam dalam satu abad.

Pesimisme investor terhadap dampak perekonomian yang ditimbulkan oleh COVID-19 berada di level ekstrem. Posisi uang tunai berada dalam posisi tertinggi sejak serangan 9/11 menurut survei Bank of America.

"Pada awal musim gugur atau akhir musim panas, kita harus mulai benar-benar melihat perekonomian kembali ke mode yang lebih normal," ujar Howard Ward, Kepala Investasi Ekuitas Pertumbuhan Gabelli Funds LLC dilansir melalui Bloomberg, Rabu (15/4/2020).

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan akan membuat beberapa pengumuman penting dalam beberapa hari ke depan. Hal itu terkait pedoman pembukaan kembali perekonomian negeri Paman Sam.

Di sisi lain, Bloomberg melaporkan harga minyak merosot karena anjloknya permintaan dan melimpahnya pasokan. Kondisi itu mengesampingkan kesepakatan pemangkasan pasokan.

Berikut data pergerakan utama pasar:

Saham
Futures S&P 500 sedikit berubah pada 7:30 pagi di Tokyo. Indeks itu menguat 3,1 persen, Selasa (14/4/2020).
Futures on Japan’s Nikkei 225 naik 0,1 persen.
Hang Seng futures naik 0,4 persen.
Futures Australia’s S&P/ASX 200 Index naik 0,2 persen.

Mata Uang
Indeks Spot Dollar Bloomberg turun 0,5 persen
Euro di level US$1,0984
Yen Jepang di level 107,17 per dolar AS
Yuan offshore diperdagangkan di 7,042 per dolar AS

Obligasi
Imbal hasil atau yield US Treasury Tenor 10 Tahun turun dua basis poin ke level 0,75 persen

Komoditas
Harga minyak mentah West Texas Intermediate naik 3,3 persen ke level US$20,78 per barel,
Emas diperdagangkan di level US$1.729,96 per troy ounce

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bursa Asia bursa global Kinerja Emiten
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top