Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Indeks Manufaktur Indonesia Maret Terendah, Analis Beberkan Alasannya

IHS Markit pada Rabu (1/4/2020) mengumumkan data manufaktur PMI Indonesia untuk periode Maret tercatat di level 45,3.
Aktivitas karyawan di pabrik karoseri truk di kawasan industri Bukit Indah City, Purwakarta, Jawa Barat, Kamis (13/2). /Bisnis.com-NH
Aktivitas karyawan di pabrik karoseri truk di kawasan industri Bukit Indah City, Purwakarta, Jawa Barat, Kamis (13/2). /Bisnis.com-NH

Bisnis.com, JAKARTA - Pasca ekspansi pertama dalam empat bulan, Purchasing Managers’ Index atau PMI Indonesia pada bulan Maret ada di level terendah sepanjang masa.

IHS Markit pada Rabu (1/4/2020) mengumumkan data manufaktur PMI Indonesia untuk periode Maret tercatat di level 45,3 atau merupakan kontraksi terburuk yang dibukukan selama sembilan tahun survei tersebut dilakukan.

Mirae Asset Sekuritas melihat angka PMI China untuk Maret berada di atas ekspektasi yakni di 52, dibandingkan dengan perkiraan konsensus yang sebesar 44,8. Namun, di sisi lain, perekonomian China benar-benar berhenti pada Februari, sehingga sulit rasanya untuk kemudian mencatatkan ekspansi pada Maret.

Ekonom Mirae Asset Sekuritas Anthony Kevin mengungkapkan beberapa alasan pihaknya percaya aktivitas manufaktur akan memburuk dua bulan ini.

Pertama, penyebaran virus corona (Covid-19) di negara-negara lain tampak akan sulit untuk diredam pada akhir April. Kedua, pemerintah Indonesia akan mengumumkan kenaikan jumlah kasus yang signifikan di beberapa pekan mendatang.

Ketiga, libur Lebaran yang lebih panjang dari biasanya akan memberikan tekanan lebih lanjut terhadap aktivitas manufaktur. Terakhir, depresiasi rupiah yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir akan membatasi perusahaan-perusahaan dalam menaikkan produksinya, karena di sisi lain mereka kesulitan untuk menaikkan harga jual.

“Berdasarkan kalkulasi kami, stimulus fiskal yang diluncurkan oleh pemerintah hanya bernilai 2,4 persen dari PDB. Jadi, kami melihat dampaknya terhadap perekonomian akan minimal. Lebih lanjut, pemerintah belum bisa mengatasi masalah yang dihadapi jutaan pekerja informal di Indonesia, yakni hilangnya pendapatan harian karena mereka tak mampu bekerja secara remote,” tulisnya dalam riset, Kamis (2/4/2020).

Oleh karena itu, saat ini sekuritas mempertahankan proyeksi variabel makroekonomi untuk semua skenario. Dengan anggapan bahwa akan lebih bijak untuk menunggu perkembangan terkait dengan Covid-19 di Indonesia terlebih dahulu, sebelum kemudian merivisi model.

Di sisi lain, IHSG ditutup lebih rendah pada hari Rabu (1/4/2020), turun dari kenaikan di sesi pagi karena kekhawatiran investor pada profitabilitas perusahaan di bawah skenario Menteri Keuangan Sri Mulyani, yakni proyeksi PDB sepanjang 2020 hanya 2,3 persen dan nilai tukar rupiah anjlok ke level Rp17.500 per dolar AS.

Dengan skenario terburuk PDB Indonesia turun ke level minus 0,4 persen sepanjang 2020 dan nilai tukar rupiah turun ke level Rp20.000 per dolar AS, Kepala Riset Mirae Asset Sekuritas Hariyanto Wijaya berharap Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG akan melanjutkan konsolidasi hari ini.

“Semua tiga indeks utama AS merosot 4,4 persen pada hari Rabu (1/4/2020) di belakang mood risk-off ketika Presiden Trump memperingatkan orang Amerika tentang dua minggu mendatang yang bisa ‘menyakitkan’, meskipun langkah-langkah social distancing sudah diterapkan dan AS dapat menghadapi 240,000 kematian dari pandemi corona virus,” tulis Hariyanto dalam risetnya.

Kemungkinan shutdown ekonomi AS yang berkepanjangan harus menekan laba dan dividen perusahaan. ISM Amerika Serikat, aktivitas manufaktur sudah ke wilayah kontraksi di 49,1 pada bulan Maret, meskipun lebih baik dari ekspektasi konsensus 44.5.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper