Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Minggu Terburuk, Bursa Saham AS Ditutup Anjlok

Imbal hasil indeks S&P 500, Dow Jones, dan Nasdaq telah turun 30 persen dalam sebulan terakhir
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 21 Maret 2020  |  08:11 WIB
Tanda Wall Street tampak di depan Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS. - Michael Nagle / Bloomberg
Tanda Wall Street tampak di depan Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS. - Michael Nagle / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Bursa saham Amerika Serikat ditutup anjlok dan diklaim sebagai minggu terburuk bagi ekuitas negara adidaya tersebut yang disebabkan oleh krisis keuangan global seiring dengan peringatan tentang dampak ekonomi dari pandemi COVID-19 atau virus corona.

Berdasarkan Bloomberg, indeks Dow Jones ditutup anjlok 4,55 persen bersamaan dengan indeks S&P 500 dan Nasdaq yang masing masing terkoreksi 4,34 persen dan 3,79 persen pada perdagangan Jumat (20/3/2020). 

Ketiga indeks itu kini mencetak imbal hasil negatif dalm setahun terakhir. Bahkan, dalam sebulan terakhir, imbal hasil ketiga indeks terkoreksi 30 persen.

Sepanjang minggu ini, indeks S&P 500 sudah melorot ke level terendah dalam tiga tahun terakhir sebesar 15 persen pasca Uni Eropa memperingatkan resesi tahun ini mungkin akan seburuk tahun 2009. 

Di sisi lain, Goldman Sachs mengatakan ekonomi Amerika Serikat mungkin menyusut 24 persen secara tahunan pada kuartal kedua tahun 2020. Harga minyak juga terpantau merosot 29 persen sejak awal pekan seiring dengan pemberlakuan pembatasan pergerakan oleh pemerintah global untuk memperlambat penyebaran penyakit mematikan tersebut. 

Imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 10 tahun juga kembali jatuh di bawah 1 persen. Sedang dolar AS sedikit menjinak setelah melompat lebih dari 8 persen pada delapan sesi sebelumnya yang menyebabkan emas kembali melonjak. Hal ini ditenggarai keputusan Federal Reserve atau The Fed untuk mengkoordinasikan langkah strategis dengan bank sentral global untuk memperkuat pengaturan pertukaran likuiditas dolar. 

"Pasar saat ini tidak akan sembuh dengan sendirinya secara tiba-tiba," ujar Marvin Loh, senior global macro strategist di State Street Global Markets, dikutip dari Bloomberg. 

Lebih lanjut, investor menimbang laju percepatan penyebaran virus corona berkebalikan dengan optimisme pemerintah melindungi ekonomi global dengan mengeluarkan berbagai macam stimulus. Adapun pasar uang, bursa saham, bank dan bahkan berbagai industri terus berusaha melobi pembuat kebijakan di Amerika Serikat untuk tidak menutup pasar.

Sejauh ini, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mengatakan bahwa laju penyebaran virus corona akan semakin cepat. Kasusnya sendiri meningkat dua kali lipat menjadi 200.000 dalam 12 hari hingga Kamis (19/3/2020). Tetapi, sehari setelahnya pasien positif bertambah setengahnya menjadi total 300.000 kasus.

Volume perdagangan saham Amerika Serikat sendiri melonjak 60 persen di atas rata-rata di tengah fenomena yang dikenal sebagai quadruple witching yang disebabkan oleh opsi kedaluwarsa dan kontrak berjangka.

Di Eropa, Bank Sentral Eropa memberikan bantuan modal kepada perbankan untuk membantu Air France-KLM dan Airbus SE. Swiss juga mengumumkan paket ekonomi senilai 32 miliar franc atau setara US$32,6 miliar. JErman juga menyiapkan dana penyelamatan untuk perusahaan terkena dampak virus corona senilai 500 miliar Euro.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak bursa as Virus Corona
Editor : Rivki Maulana
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top