Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Manajemen Jelaskan Penyebab Laba Bersih PPRO Tergerus

Direktur Keuangan PP Properti Indaryanto mengatakan laba bersih perseroan tergerus karena tahun lalu merupakan tahun politik. Hal itu membuat daya beli investor atau pembeli akhir terhadap objek properti berkurang.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 18 Maret 2020  |  17:04 WIB
Direktur Operasi PT PP Properti Jababeka Residence Awanu Alfan (dari kiri) bersama Dirut PT Grahabuana Cikarang Sutedja Sidarta Darmono, Dirut PT PP Properti Jababeka Residence Harris Amin Singgih, dan Direktur Realti PT PP Properti Tbk Galih Saksono, mengamati maket pengembangan Little Tokyo, di Jakarta, Kamis (19/4/2018). - JIBI/Endang Muchtar
Direktur Operasi PT PP Properti Jababeka Residence Awanu Alfan (dari kiri) bersama Dirut PT Grahabuana Cikarang Sutedja Sidarta Darmono, Dirut PT PP Properti Jababeka Residence Harris Amin Singgih, dan Direktur Realti PT PP Properti Tbk Galih Saksono, mengamati maket pengembangan Little Tokyo, di Jakarta, Kamis (19/4/2018). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA – Laba bersih emiten properti PT PP Properti Tbk. tergerus 27,28 persen akibat tidak adanya penjualan lahan pada tahun lalu.

Direktur Keuangan PP Properti Indaryanto mengatakan laba bersih perseroan tergerus karena tahun lalu merupakan tahun politik. Hal itu membuat daya beli investor atau pembeli akhir terhadap objek properti berkurang.

“Di sisi lain, kami pada 2018 ada penjualan lahan kepada anak usaha di Kertajati yang masuk ke pendapatan lain-lain sedangkan tahun lalu tidak. Itu yang membuat laba kami terkoreksi,” katanya kepada Bisnis.com pada Rabu (18/3).

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, pada 2018 PPRO mencatatkan pendapatan lain-lain sebesar Rp78,36 miliar sedangkan tahun lalu hanya Rp584,32 juta. Akan tetapi, pada pos pendapatan PPRO melakukan penjualan tanah kepada PT Mikroland Payon Amartha senilai Rp363,95 miliar pada 2019.

Indaryanto menambahkan proyek ventura juga membukukan rugi sebesar Rp14,61 miliar dari posisi laba pada 2018 Rp3,68 miliar. Kerugian utamanya dikontribusikan oleh PT Pekanbaru Permai Propertindo senilai Rp17,13 miliar dan PT Jababeka PP Properti Rp5,76 miliar.

Menurutnya, untuk kedua proyek ventura itu kepemilikan PPRO kurang dari 50 persen sehingga tidak berpengaruh pada konsolidasian perseroan. Untuk tahun ini, lanjutnya, perseroan akan fokus dalam penjualan residensial untuk meningkatkan laba bersih.

“Tahun ini kami tidak lagi menjual lahan, tapi berikut rumahnya juga. Jadi kami prediksikan akan ada peningkatan laba bersih,” ungkapnya.

Selain itu, perseroan juga sudah dalam proses penandatanganan perjanjian divestasi 30 persen saham Aerocity di Kertajati.

Indaryanto mengatakan transaksi tertunda akibat penyebaran virus corona. Namun, dia memastikan hal itu akan terealisasi pada tahun ini. Menurutnya, calon pembeli berasal dari Korea Selatan tetapi dia belum ingin menyebutkan kesepakatan nilai kedua pihak.

Selain itu, sampai dengan Februari anak usaha plat merah itu sudah menghabiskan 15 persen dari anggaran belanja modal tahun ini. Adapun total alokasi dana mencapai Rp800 miliar sampai dengan akhir tahun.

Anggaran itu rencananya akan dipakai untuk membiayai 7 proyek anyar. Tiga diantara tujuh proyek itu adalah residensial sedangkan empat sisanya apartemen. Lokasinya tersebar di Jakarta, Bandung, Surabaya dan Makassar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Kinerja Emiten pt pp properti ppro
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top