Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini Tiga Jurus Jitu BI Jaga Rupiah dari Serangan Virus Corona

Rupiah terkoreksi 2,05 persen atau 293 poin dan parkir di level Rp14.318 per dolar AS, level terendah sejak Agustus 2019.
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 29 Februari 2020  |  13:50 WIB
Petugas teller menata uang rupiah di salah satu cabang Bank Mandiri di Jakarta, Rabu (19/2/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Petugas teller menata uang rupiah di salah satu cabang Bank Mandiri di Jakarta, Rabu (19/2/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, BANDUNG -- Bank Indonesia (BI) membeberkanan tiga jurus jitu untuk meredam pelemahan nilai tukar rupiah yang mencapai titik terburuk pada penutupan perdagangan Jumat (28/2/2020).

Seperti diketahui, rupiah terkoreksi 2,05 persen atau 293 poin dan parkir di level Rp14.318 per dolar AS sehingga level terendah sejak Agustus 2019.

Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI IGP Wira Kusuma mengatakan pelemahan rupiah terjadi karena keluarnya dana investor asing (capital outflow) akibat sentimen negatif penyebaran Covid-19.

"Kami menjaga stabilitas eksternal hari ke hari. BI tetap ada di pasar untuk mengamati tiap detik pergerakan di pasar keuangan. Kami melakukan triple intervention untuk mentaga agar rupiah tidak terkoreksi terlalu dalam," katanya Pelatihan Wartawan Bank Indonesia di Bandung, Sabtu (29/2/2020).

Triple intervention yang dilakukan BI untuk menjaga rupiah dari tekanan eksternal, yaitu intervensi di pasar spot, penerapan Domestik Non-Delivery Forward (DNDF), hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) yang dijual investor asing.

Menurutnya, upaya BI melakukan intervensi melalui instrumen DNDF cukup efektif untuk memberikan alternatif hedging. DNDF, lanjutnya, juga mampu membawa tingkat kepercayaan investor ke arah yang positif.

Wira menuturkan penerapan triple intervention membuat nilai rupiah tidak terperosok lebih dalam dan relatif lebih baik dibandingkan negara-negara di kawasan Asia.

"Pelemahan mata uang terhadap dolar ini tidak hanya rupiah, tetapi Won [Korea Selatan], Bath [Thailand], Malaysia [Ringgit], bahkan dolar [Singapura] mengalami pelemahan lebih buruk. Ini hal biasa di pasar keuangan, ketika ketidakpastian tinggi pasti terjadi captal outflow," imbuhnya.

Bank Indonesia menggelontorkan dana sebesar Rp100 triliun demi menjaga stabilitas pasar keuangan, khususnya nilai tukar rupiah di tengah wabah virus Corona (Covid-19).

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan pihaknya telah melaksankan triple intervention, yaitu menjual valas untuk mengendalikan pelemahan rupiah, domestic non-delivery forward (DNDF), dan membeli surat berharga negara (SBN) yang dilepas investor asing atau dari pasar sekunder. 

"Tahun ini, secara keseluruhan [ytd], BI membeli dari pasar sekunder jumlahnya kurang lebih Rp100 triliun hingga 27 Februari," katanya di kompleks Bank Indonesia, Jumat (28/2/2020).

Dari total Rp100 triliun, lanjutnya, (SBN) sebesar Rp78 triliun sudah dibeli Bank Indonesia sejak akhir Januari atau saat merebaknya wabah virus Corona di Wuhan, China. Dia menegaskan BI akan terus berada di pasar untuk menyetabilkan nilai tukar rupiah dan pasar keuangan, khususnya untuk obligasi pemerintah. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah Virus Corona
Editor : M. Taufikul Basari
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top