Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

IHSG Ambles, Saham-saham Tambang Ikut Ambrol

Indeks Jakmine turun seiring penurunan harga saham-saham pertambangan batu bara. Penurunan indeks Jakmie agak sedikit tertahan berkat penguatan saham-saham pertambangan emas.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 27 Februari 2020  |  20:56 WIB
Petugas mengawasi proses penimbunan batu bara di Tambang Air Laya, Tanjung Enim, Sumatra Selatan, Minggu (3/3/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan
Petugas mengawasi proses penimbunan batu bara di Tambang Air Laya, Tanjung Enim, Sumatra Selatan, Minggu (3/3/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Kejatuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) turut diikuti keruntuhan saham-saham emiten pertambangan yang tergabung dalam indeks Jakmine. Indeks Jakmine tercatat mencapai titik terendah sejak Juli 2017 dan diperkirakan terus melemah dalam jangka panjang.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan har ini, Kamis (27/2/2020), indeks Jakmine terkoreksi 2,43 persen atau 34,05 poin sehingga parkir di level 1.368,72.

Sepanjang tahun berjalan 2020, indeks Jakmine telah tekoreksi 11,62 persen. Indeks Jakmine terdiri dari 47 emiten yang bergerak di bidang pertambangan mulai dari batu bara, logam, serta minyak dan gas.

Lima emiten dengan bobot terbesar untuk indeks Jakmine terdiri dari PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) 16,68 persen, PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) 12,27 persen, PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) 9,8 persen, PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) 8,68 persen, dan PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) 8,57 persen.

Pada penutupan perdagangan, saham yang menjadi penekan laju indeks Jakmine dengan koreksi harga terdalam yaitu PT Alfa Energi Investama Tbk. (FIRE) -14,55 persen. Kemudian disusul INCO -8,71 persen, PT Surya Esa Perkasa Tbk. (ESSA) -7,92 persen, PT Central Omega Resources Tbk. (DKFT) -7,89 persen, dan PT Garuda Tujuh Buana Tbk. (GTBO) -7,41 persen.

Adapun, saham-saham yang menjadi penopang laju indeks Jakmine dengan penguatan harga yakni MDKA sebesar 3,82 persen dan PT Resource Alam Indonesia Tbk. (KKGI) sebesar 3,13 persen.

Analis Kresna Sekuritas Robertus Yanuar Hardy mengatakan penurunan indeks Jakmine hingga menyentuh level terendah adalah hal wajar karena sebagian besar dihuni oleh emiten pertambangan batu bara yang harga jual komoditasnya juga dalam tren melemah.

“Harga jual komoditasnya saat ini sedang turun ke level terendahnya juga, dan itu pun juga tampak terhadap laba emiten yang juga turun,” ujar Robertus saat dihubungi Bisnis, Kamis (27/2/2020).

Dia juga mengatakan bahwa pelemahan indeks Jakmine juga berasal dari risiko pelemahan indeks harga gabungan saham (IHSG) yang juga telah menyentuh level terendahnya sejak Maret 2017, yaitu terkoreksi 2,69 persen menjadi 5.535,69.

Robertus menambahkan hingga saat ini belum ada saham emiten yang dapat mendorong signifikan pergerakan indeks Jakmine walaupun risiko indeks Jakmine untuk turun lebih dalam sudah mulai terbatas.

Oleh karena itu, dia merekomendasikan investor untuk mulai mengoleksi secara selektif beberapa emiten yang sudah punya rencana pembagian dividen seperti, PTBA, ITMG, dan UNTR.

Analis Samuel Sekuritas Dessy Lapagu melihat pergerakan indeks Jakmine masih bearish meskipun saham emiten tambang emas tengah menguat seiring dengan penguatan harga emas global.

“Meskipun ada sektor emas dan nikel, mayoritas jakmine itu berasal dari sektor batubara sehingga penurunan akan terfokus pada efek pelemahan harga batu bara global,” ujar Dessy kepada Bisnis, Kamis (27/2/2020).

Dia menjadikan saham Merdeka Copper Gold dan Aneka Tambang menjadi saham jagoan pilihannya dalam jangka pendek. Untuk diketahui, saham MDKA berhasil menguat di level Rp1.360 per saham dan ANTM naik ke level Rp600 per saham.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG batu bara
Editor : Rivki Maulana
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top