Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tahun Ini, Belanja Modal Delta Dunia Makmur (DOID) Tak Lebih dari US$100 juta  

Kinerja Delta Dunia Makmur pada tahun lalu mengalami tekanan akibat penurunan produksi dan harga batu bara.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 24 Februari 2020  |  19:46 WIB
Direktur Utama PT Delta Dunia Makmur Tbk Hagianto Kumala (tengah), berbincang dengan Direktur Ariani Vidya Sofjan (kanan) dan Direktur Eddy Porwanto Poo seusai rapat umum pemegang saham tahun (RUPST) di Jakarta, Rabu (22/5/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan
Direktur Utama PT Delta Dunia Makmur Tbk Hagianto Kumala (tengah), berbincang dengan Direktur Ariani Vidya Sofjan (kanan) dan Direktur Eddy Porwanto Poo seusai rapat umum pemegang saham tahun (RUPST) di Jakarta, Rabu (22/5/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten kontraktor pertambangan, PT Delta Dunia Makmur Tbk., mengestimasikan belanja modal atau capital expenditure (capex)  tahun ini akan lebih rendah dibandingkan dengan dua tahun lalu.

Head of Investor Relations Delta Dunia Makmur Regina Korompis mengatakan estimasi belanja modal tahun ini akan berada di bawah US$100 juta. Perkiraan ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan belanja modal pada 2018 sebanyak US$305 juta. Adapun pada 2019, serapan belanja modal diperkirakan sebesar US$73 juta.

Menurut Regina, belanja modal tahun ini maupun tahun lalu lebih rendah dibandingkan dengan 2018 karena siklus penggantian alat telah berakhir pada 2018. Nantinya, lanjut dia, siklus penggantian alat itu akan mulai kembali sekitar 2022.

“Tahun ini kami ekspektasikan capex akan lebih rendah US$100  juta yang akan digunakan untuk penggunaan normal seperti perbaikan dan pemeliharaan alat,” ujar Regina kepada Bisnis, Senin (24/2/2020).

Di sisi lain, kinerja emiten bersandi saham DOID itu sedikit mengalami tekanan pada tahun lalu. DOID tercatat mengalami penurunan laba bersih 73 persen menjadi US$20,48 juta. Laba tergerus karena DOID mencatat koreksi pendapatan sebesar 1,1 persen menjadi US$881,8 juta sedangkan beban pokok pendapatan justru naik 9,2 persen menjadi US$739,16 juta.

Regina menyebut, penurunan kinerja perseroan pada tahun lalu tak lepas dari pergerakan harga batu bara. “Karena volume produksi dan harga batubara pada 2019 yang lebih rendah, sehingga laba bersih perseroan ikut menurun,” tuturnya.

Sepanjang 2019, DOID merealisasikan target pengupasan lapisan tanah sebesar 380,1 juta bank cubic meter (bcm), turun 3 persen dibandingkan dengan realisasi pada 2018 sebanyak 392,6 juta bcm. 

“Kami berharap Indeks ICI [Indonesia coal index] akan lebih stabil tahun ini dan mudah-mudahan UU CCOW atau Omnibus akan lebih jelas tahun ini,” tukas Regina.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kinerja emiten
Editor : Rivki Maulana
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top