Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

China Keluarkan ‘Penawar’ Virus Corona, Bursa Asia Masih Terluka

Alhasil, dua indeks saham utama di China, Shanghai Composite dan CSI 300 hari ini ditutup melonjak masing-masing 2,28 persen dan 2,25 persen. Indeks Hang Seng Hong Kong pun berakhir naik 0,52 persen. 
Exchange Square di Hong Kong./ Justin Chin - Bloomberg
Exchange Square di Hong Kong./ Justin Chin - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia terkoreksi pada perdagangan hari ini, Senin (17/2/2020), seiring dengan melemahnya bursa saham Jepang.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks MSCI Asia Pacific terpantau turun 0,2 persen pada pukul 08.15 waktu London atau pukul 15.15 WIB.

Sementara itu, indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang ditutup melemah masing-masing 0,89 persen dan 0,69 persen, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan berakhir turun tipis 0,06 persen atau 1,42 poin di posisi 2.242,17.

Pelemahan pasar saham Jepang berlanjut pada perdagangan hari ini, pascarilis laporan pertumbuhan ekonomi yang menunjukkan kontraksi sehingga menambah kekhawatiran soal resesi di tengah meluasnya wabah virus corona (Covid-19). 

Ekonomi Jepang dinyatakan mengalami penurunan terburuk dalam lebih dari lima tahun akibat terdampak kenaikan pajak penjualan dan lesunya permintaan.

Produk Domestik Bruto (PDB) Negeri Sakura menyusut dengan laju tahunan 6,3 persen pada kuartal IV/2019 atau tiga bulan yang berakhir hingga Desember 2019 dari kuartal sebelumnya, menurut estimasi pendahuluan Kantor Kabinet Jepang yang dirilis Senin (17/2/2020).

Sementara itu, provinsi Hubei China, pusat penyebaran virus corona, melaporkan 1.933 kasus baru pada Senin (17/2/2020). Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengevakuasi sejumlah penumpang dari kapal pesiar Diamond Princess di Jepang, di mana 355 orang dikonfirmasikan terinfeksi virus mematikan tersebut.

Bursa Asia tetap tertekan meskipun sentimen investor untuk aset-aset berisiko terangkat awal pekan ini setelah pemerintah China akhir pekan kemarin meluncurkan rencana-rencana untuk mengurangi pajak korporasi.

Kemudian pada Senin (17/2/2020), People's Bank of China (PBoC) sepakat untuk menyediakan pendanaan jangka menengah (medium-term lending facility/MLF) kepada perbankan guna melindungi ekonominya dari wabah virus corona. 

Bank sentral negeri Tirai Bambu itu menawarkan pinjaman jangka menengah satu tahun senilai 200 miliar yuan (US$29 miliar). Selain itu, PBoC memutuskan memangkas suku bunga sebesar 10 basis poin menjadi 3,15 persen, terendah sejak 2017.

PBoC telah menggelontorkan likuiditas senilai 100 miliar yuan dana melalui perjanjian 7-day reverse repurchase (7-DRR) dan menghasilkan penarikan likuiditas senilai 700 miliar yuan dari pasar karena sekitar 1 triliun yuan repo surat berharga negara jatuh tempo pada hari ini.

Alhasil, dua indeks saham utama di China, Shanghai Composite dan CSI 300 hari ini ditutup melonjak masing-masing 2,28 persen dan 2,25 persen. Indeks Hang Seng Hong Kong pun berakhir naik 0,52 persen. 

 “Jika ekonomi China benar-benar pulih lalu Anda telah menambahkan semua stimulus fiskal dan moneter ke dalamnya, situasinya bisa jadi Anda melihat pasar negara berkembang yang jauh lebih kuat pada paruh kedua,” ujar Sunny Bangia, fund manager di Antipodes Partners Ltd.

“Banyak tergantung pada bagaimana virus ini dapat dibendung dan apakah ia dapat berubah menjadi sesuatu yang lebih berdampak kecil,” tambahnya.

Di sisi lain, pemerintah Singapura memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun ini setelah negara tersebut terdampak wabah virus corona. 

Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun ini berada dalam kisaran -0,5 persen hingga 1,5 persen pada 2020, lebih rendah dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya 0,5 persen hingga 2,5 persen.

Pemerintah juga berencana menggelontorkan anggaran dalam jumlah besar untuk melawan ancaman wabah corona pada pariwisata dan perdagangan. 

Menyusul diturunkannya estimasi pertumbuhan ekonomi tahun ini, indeks FTSE Straits Times Singapura tampak terkoreksi 0,19 persen pukul 15.48 WIB. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper