Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kinerja Agri Seret, Saham Astra Agro (AALI) dan London Sumatra (LSIP) Diunggulkan

Saat ini, kinerja saham emiten di sektor perkebunan dinilai hanya bisa tertolong kenaikan harga minyak sawit.
Pekerja membongkar muatan kelapa sawit dari truk di Salak Tinggi, di luar Kuala Lumpur, Malaysia./Reuters-Samsul Said
Pekerja membongkar muatan kelapa sawit dari truk di Salak Tinggi, di luar Kuala Lumpur, Malaysia./Reuters-Samsul Said

Bisnis.com, JAKARTA – PT FAC Sekuritas Indonesia merekomendasikan PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) dan PT Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Ybk. (LSIP) sebagai pilihan utama di antara jajaran emiten di sektor perkebunan.

Head of Research FAC Sekuritas Indonesia Wisnu Prambudi mengambil AALI dan LSIP sebagai pilihan utama di tengah pelemahan indeks agrikultur. Untuk diketahui, dalam tahun berjalan sektor agri terkoreksi 15,11 persen dalam tahun berjalan, penurunan paling dalam dibandingkan indeks sektoral lainnya. 

Dia memproyeksi dalam jangka pendek harga saham AALI bisa melaju ke level Rp12.000 sedangkan LSIP ke level Rp1.300. “Pergerakan indeks menunjukkan kemungkinan rebound tapi secara teknikal sedangkan secara fundamental masih tren penurunan,” ujarnya kepada Bisnis.com, Senin (17/2/2020).

Hari ini saham AALI ditutup menguat 0,9 persen ke level Rp11.200. Begitu juga LSIP yang naik 0,43 persen ke level Rp1.165. Ke depan, pergerakan dua saham itu akan dipengaruhi oleh pergerakan harga komoditas. Dia mengimbuhkan, harga saham kedua emiten itu diyakini bakal merangkak seiring peningkatan kinerja fundamentalnya.

Selain itu, Wisnu mengatakan implementasi program B30 juga akan memberikan pengaruh signifikan terhadap laju indeks Jakagri. Namun, tahun tikus logam ini sudah dibuka dengan wabah virus corona di China yang memberikan dampak ker berbagai sektor.

Akibatnya, indeks Jakagri tercatat melemah 15,11 persen ke level 1.294. Menurut Wisnu, hanya penguatan harga minyak sawit mentah yang bakal menjadi satu-satunya katalis positif bagi saham emiten di sektor agri.

“China tidak dalam kondisi baik hal itu mempengaruhi harga komoditas. Selain itu, perseteruan antara India dan Malaysia juga ikut menekan harga tapi di sisi lain permintaan jadi besar ke Indoenesia,” jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Pandu Gumilar
Editor : Rivki Maulana
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper