Utak-atik Direksi dan Pergerakan Saham BUMN

Dari semua perombakan BUMN sejauh ini, pergantian direksi Garuda Indonesia boleh dikatakan sebagai salah satu yang paling menyita perhatian publik.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 14 Februari 2020  |  20:09 WIB
Utak-atik Direksi dan Pergerakan Saham BUMN
Presiden Joko Widodo (kanan) bersama Menteri BUMN Erick Thohir saat peresmian landasan pacu tiga Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), East Connection Taxiway (ECT), terminal tiga dan gedung VIP Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten, Kamis (23/1/2020). - FOTO / Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA – Pergantian pejabat emiten Badan Usaha Milik Negara dinilai tidak akan terlalu berdampak terhadap performa saham-sahamnya di lantai bursa seiring belum kondusifnya pasar modal.

Sejak menjabat sebagai Menteri BUMN, Erick Thohir telah membongkat pasang direksi dan komisaris sejumlah BUMN. PT Aneka Tambang Tbk., PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk., PT Perusahaan Gas Negara Tbk., dan PT Timah Tbk., adalah sebagian perusahaan pelat merah yang dirombak.

Dari semua perombakan BUMN sejauh ini, pergantian direksi Garuda Indonesia boleh dikatakan sebagai salah satu yang paling menyita perhatian publik. Pasalnya, pergantian direksi diawali dengan kisruh penyelundupan motor mewah melalui pesawat milik emiten berkode saham GIAA tersebut.

Tak lama kemudian, lima direksi Garuda Indonesia yang diduga terlibat dalam penyelundupan itu dipecat, termasuk Direktur Utama Ari Askhara. Nama Irfan Setiaputra, mantan Direktur Utama PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero), didapuk sebagai penggantinya kemudian.

Serangkaian drama pergantian manajeman GIAA turut direspons oleh para pelaku pasar modal. Pada 5 Desember 2019, pertama kalinya Kementerian BUMN dan Kementerian Keuangan menggelar konferensi pers terkait penyelundupan itu, harga saham GIAA turun 0,8 persen dari perdagangan sebelumnya.

Harga saham GIAA kemudian terdongkrak 3 persen pada penutupan perdagangan 10 Desember 2019, ketika Kementerian BUMN memecat lima direktur yang terlibat dalam kasus itu.

Namun, ketika direksi baru diumumkan pada 22 Januari 2019, harga saham GIAA turun 3,08 persen. Sejak pergantian direksi itu hingga Kamis (13/2/2020), harga saham GIAA turun 17,57 persen ke level Rp356 per saham.

Tren serupa juga terjadi pada emiten BUMN lain yang mengalami perombakan. Hanya Aneka Tambang (ANTM) mengalami peningkatan harga saham setelah pergantian direksi pada 19 Desember 2019.

Namun, sejak saat itu harga saham perseron terperosok 18,56 persen ke level Rp835 per saham per Kamis (13/2/2020).

Meski begitu, Emiten BUMN yang mengalami perubahan direksi pada tahun ini seluruhnya masih mendapatkan rekomendasi beli dari para analis.

GIAA misalnya, berdasarkan konsensus analis yang dihimpun Bloomberg, memiliki target harga Rp703,75 per saham dalam 12 bulan ke depan. Dengan kata lain, potensi return dari saham GIAA mencapai 97,7 persen.

ANTM juga mendapatkan rekomendasi beli dari 15 analis yang dihimpun Bloomberg. Sucor Sekuritas misalnya, merekomendasikan beli dengan target harga mencapai Rp1.000 per saham. DBS Bank juga menerbitkan rekomendasi yang sama dengan target harga Rp1.250 per saham.

PGAS dan TINS juga mendapatkan rekomendasi serupa berdasarkan konsensus yang dihimpun Bloomberg. Target harga dalam 12 bulan ke depan untuk dua emiten ini masing-masing mencapai Rp2.157 dan Rp1.225 per saham.

Managing Director and Head of Equity Capital Market PT Samuel International Harry Su menjelaskan pergerakan harga saham emiten BUMN tidak hanya dipengaruhi oleh faktor pemilihan direksi baru. Masih ada sejumlah sentimen dari dalam dan luar negeri yang ikut menentukan.

“Saya rasa tidak begitu ada hubungannya [pergantian direksi/komisaris] karena market kita sedang tertekan isu saham gorengan dan virus corona. Sementara itu, pembaruan direksi itu akan hanya dapat terlihat efek positifnya minimal 6 bulan ke depan,” katanya kepada Bisnis.com, Jumat (14/2/2020).

Dia mengatakan bahwa bongkar pasang direksi dan komisaris BUMN, sejatinya memiliki dampak yang cukup besar terhadap keputusan investor jika pasar berada dalam kondisi normal. Kapabilitas korporasi BUMN mendulang laba akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan manajemennya.

“Kita membeli saham itu membeli pertumbuhan perusahaan, seberapa besar net profit bisa tumbuh dan yang dapat membuat pertumbuhan itu adalah tim manajemen dari perusahaan itu. Jadi, tentunya hubungannya erat antara kemampuan para pemimpin perusahaan dan harga saham,” jelasnya.

Dari sejumlah saham emiten BUMN saat ini, Harry Su mengukuhkan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (TLKM) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) sebagai top picks. Keduanya dinilai tidak akan terlalu terpengaruh pelemahan ekonomi Indonesia

Top picks hanya TLKM yang defensive karena terlindungi dari pelemahan ekonomi dan juga BBRI. Tapi BBRI juga berisiko karena sudah outperform,” ujarnya.

Sementara itu, Analis Artha Sekuritas Indonesia Dennies Christoper Jordan mengatakan bahwa pergantian pejabat emiten BUMN biasanya akan membuat investor cenderung wait and see. Hal ini akan membuat pergerakan saham menjadi terbatas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bumn

Editor : Hafiyyan
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top